Halloween party ideas 2015

Gambar ilustrasi: 47th kontrakkarya freeport. Sumber: nobodycorp.org

Penulis: Soleman Itlay*

Mengapa kekayaan alam Papua sedang dihancurkan? Kenapa orang Papua sudah di ujung kepunahan? Jean Jaqueaz Dozy boleh dikatakan informan bagi Amerika Serikat, Belanda dan kolonial Indonesia memusnahkan etnis Melanesia, Papua. Dozy pernah ikut Ekspedisi dibawah pimpinan Cartenz pada 1935 di Papua. Dozy lah yang menemukan tembaga di gunung sakral yang bernama Nemangkawi (nama asli). Dia membuat laporan itu dan simpan di perpustaakaan Belanda.

Kemudian, Jan Van Gruisen, direktur Earst Borneo Company, secara diam-diam menggunakan laporan itu. Gruisen boleh disebut penghianat juga, sebenarnya. Karena dia yang membocorkan laporannya kepada Folber Wilson, direktur Freeport Sulphur. Mereka berdua melakukan pertemuan pada Agustus 1959. Saat itu, Wilson yang menghancurkan alam Papua ini, berada di ujung kebangkrutan yang luar biasa di Kuba. Mengapa?

Fidel Castro, pada tahun itu menasionalisasikan seluruh perusahaan pada saat diktator rezim Batista. Gruisen yang berjiwa Yudas Iskariot ini, mendekati Wilson untuk melakukan perundingan tanpa melibatkan pemilik Nemangkawi. Laporan Dozy yang dimanfaatkan Gruisen membuat Wilson tertarik dan membaca seksama. Sampai pada akhirnya Wilson jatuh cinta pada alam Papua.

Selama beberapa bulan, Wilson melakukan survei di gunung Ersberg. Hasil temuan pria berjiwa imperialis ini, ditulis dalam buku berjudul “The Conquest of Cooper Mountain”. Pada 1 Februari 1960 Freeport Sulphur menekan kerja sama dengan East Borneo Company untuk mengerus isi perut bumi Papua ini. Perlu mencatat baik bahwa, yang dilakuan Wilson maupun Gruisen bertepatan dengan status politik Papua makin tidak jelas alias memanas.

Dimana Belanda untuk Sri Baginda Raja Nederland, Pangeran Orangje VAN Nassau, Hertog Agung Luxemburg menetapkan west Irian dengan nama Nederlands Nieuw Guinea pada 24 Agustus 1928. Sementara Indonesia melalui mulut tidak masuk akal akal Soekarno, mengatakan wilayah jajahan bekas Nederland Indie, dari Sabang sampai Merauke adalah satu bagian dari Indonesia pada proklamasi 17 Agustus 1945.

Status politik Papua yang kelabu, dimanfaatkan oleh kaum imperialis dan kolonial, antara Amerika Serikat, Belanda dan Indonesia. Disini, Central Intelegenci Agen (CIA) bermain dibelakang Indonesia dalam upaya merebut Papua dari tangan Belanda. Gruisen kemungkinan besar bersama juga di samping dan belakang Hertog Agung Luxemburg. CIA langsung di back up oleh Wilson dan Gruisen.

Keterlibatan CIA bisa lihat dalam Konferensi Meja Bundar di Den Haag, selama 7 tahun (1949-1955). Proses ulur waktu ini ada kaitannya dengan Mohamad Hatta yang mengakui Papua adalah bangsa sendiri. Pernyataan kembali diangkat dalam dokumen “Hasil Renungan, Aspirasi Politik Bangsa Papua Barat”, yang disampaikan kepada presiden Republik Indonesia oleh tim 100 Dialog Nasional (hal 4).

Semakin diperkuat dengan kematian Jhon F. Kennedy dan pelengserang Soekarno. Hal ini semakin benderang di dalam buku “The Incubus of Intervention”, yang ditulis oleh Greg Poulgrain yang merupakan hasil riset selama 30 tahun. Poulgrain melakukan penelitiannya sekitar 80-an. Status politik Papua menimbulkan dua tokoh ini mengalami imbas yang tidak manusiawi. Sebenarnya semua karena CIA yang bekerja sama dengan Wilson dan Gruisen.

Presiden  ke 35 US itu, ditembak pada 22 November 1963 di Texas. Beliau disebut-sebut tidak punya niat untuk berpihak pada Indonesia dan Papua. Ia menempatkan diri di tengah-tengah. Artinya, Kennedy tidak ingin menipu Indonesia demi kekayaan alam Papua. Bahkan sama sekali tidak pikir untuk mempersusah orang Papua, menentukan status politik yang diperbincangkan antara Belanda dan kolonial Indonesia.

Sementara presiden Indonesia, Soekarno dilengserkan dengan sanggahan komunisme. CIA mendekati Soeharto dan mengulingkan beliau pada 1 Oktober 1965. Kondisi ini berujung pada pergantian posisi orang nomor satu, baik Amerika Serikat dan Indonesia. Salah satu mantan direksi Freeport Sulhur termasuk  orang memenangkankan Jhonson pada kampanye politik di US pada 1964, sangat jengkel dengan sikap Soekarno yang tidak pro dengan Freeport.

Dikatakan, “orang ini, Soekarno harus dilengserkan”. Setelah Johnson mengantikan Kennedy, akses Freeport Sulphur semakin terbuka. Karena CIA berhasil mendekati Soeharto untuk melengserkan Bung Karno. Asvi Marvan Adam, selaku sejarahwan Indonesia mengatakan, Soekarno lengser karena tidak mau kekayaan alam di Indonesia, dalam hal ini Freeport tidak mau dikuasai oleh imperialis asing, AS. Silahkan baca artikel berjudul, “Soekarno akan menangis tahu kekayaan Papua habis dikerut Amerika” di merdeka.com.

Tidak sampai disitu. CIA juga disebut-sebut sangat bertanggung jawab atas kecelakaan pesawat yang menewaskan sekejen PBB, Hammarskjold. Dikatakan Hammarskjold beserta 15 orang lainnya jatuh di Rhodesia Utara, sekarang Zambia. Hal itu disampaikan oleh mantan ketua Mahkama Agung Tazania Mohamed Chande Othman. Laporan tersebut diserahkan kepada Sekertaris Jenderal PBB, Antonio Guterres pada 9 Agustus lalu.

Allen Dulles, disebut-sebut sebagai aktor dibalik kecelakaan pesawat itu. Menurut Othman, Dulles merupakan pimpinan dari agen CIA yang menewaskan sekjen PBB yang pro Papua merdeka itu. Greg Poulgrain, dalam bukunya berjudul "The Incubus of Intervention, Conflicting, Indonesia Strategies of Jhon F. Kennedy” menyebut Hammarskjold tidak menginginkan Papua dikuasai oleh Indonesia maupun Belanda.

Ia lebih memilih Papua menentukan nasib sendiri. Oleh karennya,  ia membuat proposal tentang Papua sebagai wilayah sengketa antara kolonial Indonesia dan belanda (1949-1962). Proposal itu berjudul “Papua for Papuans”. Menurut Pdt. Phil Karel Erari, proposal beliau disiapkan agar bisa sampaikan pada Sidang Umum PBB Pada Oktober 1961. Namun tidak bisa lagi melanjutkan atau dibacakan karena CIA berhasil mengagalkan almarhum pada peristiwa yang menyedihkan itu.

Permainan CIA semakin gila ketika Augustus A. Long terpilih sebagai direktur Chemical  Bank, salah satu perusahaan Rockeffeler. Long diangkat menjadi anggota dewan penasehat intelijen AS untuk masalah luar negeri. Setelah mengulingkan Soekarno, Folber Wilson mendapat telfon dari ketua Dewan Direktur Freeport, Langbourne Williams. Apakah sudah siap eksploitasi gunung emas Irian Jaya?

Lisa Pease telah memperlihatkan semua goresan jahat di dalam artikel berjudul “JFK, Indonesia, CIA, and Freeport” di majalah Probe. Lisa mendapat jawaban, bahwa petinggi Freeport sudah mempunyai kontak penting dalam lingkarang para tokoh Indonesia. Mereka adalah orang-orang yang bekerja di lingkup kementerian Pertambangan dan Perminyakan, yakni; Ibnu Soetowo dan Julius Tahija. Ibnu jadi penghubung dekat dengan Freeport.

Ingat! UU Nomor 1 Tahun 1967 Tentang Penanaman Modal Asing (PMA) dirancang dan ditetapkan di Jenewa, Swiss. Mengapa hal ini dibahas di luar negeri setelah KMB di Den Haag, Belanda selesai? Oh, tidak lama lagi, 7 April 1967, Kontrak Karya I dilaksanan dibawah tangan berdarah, Soeharto di Timika. Tentu, ini pun tanpa ada yang melibatkan pemilik Nemangkawi, khususnya suku asli Amungme dan Kamoro.

Freepot kemudian mengandeng Bechtel, perusahaan AS yang mempkerjakan pentolan CIA, untuk membangun konstruksi pertambanagan di Mimika. Tahun 1980, Freeport mengandeng McMoran milik “Jim Bob” Moffet dan menjadi perusahaan raksasa di dunia dengan laba ± 1,5 milyar dollar AS/tahun. Semua ini bermain disamping sengketa status politik Papua. Jadi semua sejarah yang berkaitan dengan orang Papua dianekasi ke Indonesia “pukul rata” sampai “sekarang” ini demi kepentingan ekonomi Amerika Serikat, Indonesia, dan Belanda.

Kalau Hammarskjold masih hidup, Papua tidak perlu “kacau” seperti hari ini. Tidak perlu lagi melakukan: Perang atau Daerah Operasi Militer (19 Desember 1961-2010), New York Agrrement (15 Agustus 1962), Roma Agrement (30 September 1962), Hari Aneksasi (1 Mei 1963), PEPERA yang Cacat (Prinsip) Hukum dan Demokrasi (24 Juli-2 Agustus 1969, dan lain sebagainya. Sebenarnya, pemerintah sadar bahwa “ Papua Bukan Satu Bagian Dengan Indonesia”.

Buang alasan Soekarno tidak mengikat pada dasar pijakan yang objektif. Karena Papua punya “sendiri” terutama batas wilayah, suku, agama, dan rasnya. Papua juga telah mempunya bintang pagi sejak 1961.  Jangan karena kertas bicara berat pada warna putih dan merah. Bicaralah karena kebenaran yang tertulis pada Kitab Suci, Alquran, Weda, Tripitaka, Wu Jing, Si Shu, dan Xiao Jing. Biarkan kebenaran bicara seturut kehendak Tuhan Yang Maha Esa.

Pancasila (kan) dalam segala tidakan. Perbuatlah orang Papua sebagai manusia yang punya martabat. Tunjukkanlah itu dalam perkataan, kelalaian dan perbuatan. Katakanlah terus seperti kata-kata mati Ali Mortopo dan Luhut Panjaitan. Pada 1969 Jenderal Ali Mortopo berkata, “Kalau orang Papua mau merdeka, minta Amerika satu pulau dan tinggal disana”. Pada 2016, sekitar 47 tahun lewat, Luhut Panjaitan berkata, “Orang Papua yang mau merdeka, pindah saja di pasifik dari tanah Papua”.

Hari ini orang Papua di planet bulan yang bernama Papua. Hari ini orang Papua sudah minta Amerika harus berbuat apa. Hari orang Papua di Pasifik. Apa lagi yang harus dilakukan? Apa yang Indonesia lakukan untuk orang Papua? Oh tidak lain adalah Genosida di Papua Barat. Apalagi yang Belanda lakukan? Meninggalkan orang Papua guna dihancurkan oleh Amerika Serika yang bekerja sama dengan Indonesia. Bukan main-main. Sekitar 64 tahun lalu bertiga melakukan Roma Agreement, pada 30 September.

Kurang lebih 20 hari lagi, akan peringati Perjanjian Roma yang diurus kala itu. Sudah 50 tahun mengerut isi perut bumi Papua. Sudah mengorban ribuan orang asli dan non Papua. Banyak karyawan/ti tidak bekerja lagi. Banyak bencana muncul dimana-mana. Lalu, 51 persen yang pemerintah Indonesia urus itu untuk siapa? Orang Papua atau (Birokrat-Kapitalis) Indonesia? Freeport Bertanggung Jawab Atas Kehacuran Alam dan Manusia Papua!  

Penulis adalah anggota aktif Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) St. Efrem Jayapura, Papua




gambar pria dewasa papua. Sumber: google.

Penulis: Wissel Van Nunubado*

"Berikan Hak Politik Kepada Rakyat Papua Untuk Menentukan Nasibnya Di Dunia"     

Pendahuluan

Mungkin ada yang berpikir bahwa umpannya telah dimana oleh ikan yang diimpikan. Iya kemungkinan demikian namun semua orang mengetahui syair "sedalam laut bisa diukur namun dalamnya hati orang tidak bisa diukur". Syair itu benar-benar terlukis dalam watak para birokrat berwatak militeristik dan rakus yang hidup dibawah sistim Imprealis NKRI ini.

Hal itu jelas terlihat dalam implementasi perjanjian helsinki antara Aceh vs Indonesia dimana salah satu pasalnya menghendaki Aceh mengunakan bendera GAM, namun pasca helsinki Pemerintah Indonesia mengeluarkan PP No. 77 Tahun 2007 yang melarang pengunaan bendera GAM di Aceh.
Hari ini wacana yang sama didorong oleh Indonesia dalam melihat persoalan politik Indonesia dan Papua melalui prodak politik gado-gado Indonesia, yaitu Dialog Jakarta—Papua.

Pertanyaannya adalah siapa yang bisa menjamin pemerintah Indonesia akan bijaksana dalam menjalankan hasil dialog dan prakteknya akan berbeda sikapnya dengan menjalankan perjanjian helsinki?

Jika akhirnya, jawabannya adalah "dialog hanya sebagai upaya politik saja" maka disarankan untuk jangan terlibat dalam politik gado-gado Indonesia untuk Papua dan Internasional itu.

Berpolitiklah Dengan Kaum Beradab

Segalak-galaknya Hitler akhirnya beliaupun menyerah pada ajal hingga terbaring dipusaranya. Dunia beradap tidak menghentikam kekejamannya diatas pusarannya itu, namun dunia membuka sebuah peradilan internasional yang dikenal dengan peradilan Norenberg yang didalamnya dunia melalui hakim pengadili para pengikut dan pengemar Hitlter dengan hukuman mati atas semua kekejaman yang terjadi pada saat Ia berkuasa.

Kenyataan itu menunjukan bahwa sekalipun sejarah kolonialime yang dikuatkan dengan sistim imperial yang berbasis pada teori markantilisme dilahirkan oleh barat di pasca masa pencerahan namun semuanya bisa tunduk dan menghargai magna carta dan deklarasi kemerdekaan Amerika yang telah dikukuhkan dalam deklarasi internasiona tentang hak asasi manusia yang menjadi dasar pembentukan PBB yang menjadi penanda usainya perang dunia kedua.

Hari ini semua negara di dunia mengadopsi norma Internasional yang dikeluarlan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam bentuk Deklarasi Internasional, Kovenan Internasional, Statuta Internasional dan Konvensi Internasional yang ditandai dengan proses ratifikasi menjadi aturan hukum yang berlaku dalam negaranya masing-masing, seperti di indonesia yang tercernin dalam UU No 11 Tahun 2005 tentang Ratifikasi Kovenan Internasional Tentang Ekonomi Sosial Budaya dan UU No 12 Tahun 2005 tentang Ratifilasi Kovenan Internasional tentang Sipil Politik yang pada pasal 1 kedua aturan tersebut mengatur perihal "Hak Menentukan Nasib Sendiri Bagi Suatu Bangsa."

Sekalipun Indonesia telah meratifikasi kedua aturan tersebut namun hingga saat ini, para pejuang hak menentukan nasib sendiri terus dikriminalisasi dengan pasal 105 KUHP (makar) dan bahkan distiqma sebagai separatis dan makar. Selain itu mayoritas kasus pelanggaran HAM Berat belum tertangani dengan maksimal melalu Pengadilan HAM yang dibentuk berdasarkan UU No 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM.

Inilah bukti bahwa para birokrat Indonesia yang berwatak militeristik itu tidak beradab sehingga tidak layak bangsa yang beradap seperti bangsa West Papua berpolitik dengan mereka karena tidak akan mendapatkan hasil yang bermartabat.

Untuk itu, harapannya arahkan seluruh pikiran dan tindakan kepada negara-negara yang beradap di kawasan Pasifik, kawasan Karibia dan kawasan Atlantik serta di benua Australia, Asia (kecuali indonesia), Afrika, dan Eropa serta terkhususnya di PBB sebab disana hidup manusia-manusia yang beradab serta menghargai esensi HAM yang hakiki sebagaimana diwujudkan oleh Jhose Ramos Horta untuk pembebasan nasional Timor Lorosae atau Timur Leste sejal tahun 1975 dan mendapatkan kemenangan demokratis melalui referendum pada tahun 1999.

Wajah Politik Indonesia Yang Busuk

Tengku Muhammad Hasan Tiro perna menyatakan bahwa Indonesia adalah alat kolonialismenya feodalisme Jawa terhadap bangsa-bangsa lain disekitarnya. Pernyataan Tengku diatas sudah dapat merepresentasikan wajah sistim imprealisme NKRI dan karakter birokrat Indonesia yang menguasai seluruh pemerintahan Indonesia di setiap daerah/wilayah.

Bukan hanya pemerintahan sesunguhnya. Para intelektualnya juga demikian sebagaimana kekhawatiran Amin Rais terkait perjuangan Papua Merdeka yang makin mendunia karena telah mengandeng akademisi di beberapa universitas ternama di dunia dan bahkan ada tuntutan memberlakukan dua alternatif sekaligus seperti di Aceh dan Timor Leste dalam persoalan politik Papua". Kekhawatiran beliau menunjukan kode ke negara untuk melakukan sesuatu untuk menghambat proses perjuangan politik Papua Merdeka.

Selain intelektual indonesia, beberapa tokoh agama juga berusaha mencampur adukan aturan hukum berdasarkan ajaran agama serta mengkonekkan agama dengan politik negara kesatuan sehingga makin banyak penganut agama yang fanatik mengunakan ayat-ayat kitab suci dalam kerangka nasionalisme sehingga ada yang siap mati demi NKRI.

Semua itu membuktikan bahwa karakter berpolitik Indonesia sanggat tidak beradap dan paling sering mengunakan jurus aji mumpung untuk mencapai keinginannya.

Melalui realitas Negara Indonesia (selanjutnya: Indonesia) adalah alat kolonialisme feodalisme Jawa serta pandangan inteletual yang dikafani ayat-ayat kitab suci milik kebudayaan pagan yang termanifestasikan dalam agama samawi yang digunakan oleh Birokrat Indonesia yang berwatak militer pemilik jurus aji mumpung itu, tidak mungkin ada keadilan yang bermartabat dari mereka sebab hukumnya pun lahir dari proses politik yang penuh akan limbah darah manusia korban pembantaian demi suatu misi egois yang rakus dari segelitir kapital Indonesia dan kapital kaliber internasional.

Atas kondisi itu, Tuhan apa yang ada dalam negara Indonesia sehingga masih ada tokoh agama yang berharap lebih dari perintah indonesia? Bukanlah Uskup Agung Afrika selatan perna bilang bahwa "sementara Anda sembayang di dalam rumah ibadah, mereka sibuk menjarah rumahmu dan Sumber Daya Alam dalam perut bumimu."

Marilah kita sembayang buat mereka yang makin buta dengan cahaya keadilan, sebab Tokoh Revolusionar Yesus Kristuspun perna berkata bahwa "Berikan kepada kaisar apa yang kaisar punya dan berikan kepada Tuhan apa yang Tuhan punya." Maka itu, ingatlah pesan Abraham Lincolt, SUARA RAKYAT ADALAH SUARA TUHAN.

Tidak Ada Tuhan Pemberi Keadilan Dalam Politik

Martino Sardi (Dosen Hukum di Universitas Atma Jaya, Yogyakarta) perna berkata bahwa Tokoh Revolusioner Yesus Kristus juga berpolitik untuk membangun ajarannya ditengah feodalisme Yahudi dan Kekaisaran Romawi, namum dia berjuang demi kerajaan yang tidak ada di muka bumi. Atas politiknya yang dinilai radikal sehingga dia di salibkan tanpa kesalahan dan tidak berdasarkan hukum Yahudi maupun hukum romawi, katanya berdasarkan hukum kerakusan dan kenafsuan atas jabatan para tokoh Yahudi yang menjabat imam, besar waktu itu.

Kondisi serupa sedang terjadi dalam politik gado-gado Indonesia melalui Dialog Jalarta—Papua dimana status politik Papua dalam Indonesia yang berlandaskan pada New York Agreement (1962) melalui praktek Pepera tahun 1969 yang bertentanggan dengan prinsip ‘satu orang satu suara’ itu dipaksakan agar Bangsa West Papua mengakuinya dan selanjutnya dapat diduduk setara dengan para pembunuh, perampok, pemerkosa dan ahli sejarah palsu serta politisi komporador Indonesia dalam meja perundingan yang penuh dengan muatan kepentungan ekonomi-politik.

Untuk dipahami bahwa persoalan politik West Papua itu bukan persoalan perang suku sehingga hanya dengan penyelesaian adat dan ritual perdamaian semuanya selesai sehingga Dialog Jakarta—Papua yang mirip dengan penyelesaian denda adat dan ritual perdamaian salanjutnya selesai. Persoalan Papua itu lebih dari persoalan perang suku. Persoalan Papua itu bukan masalah dosa siapa sehingga perlu sakramen pengakuan dosa selanjutnya diberkati untuk hidup baru dalam roh kudus.
Persoalan Papua itu persoalan Internasional yang melibatkan PBB yang telah melukiskan sejarah hitam PBB atas resolusi yang dikeluarkan sehingga menjadi dasar klaim bagi pemerintah Indonesia atas Papua.

Untuk itu bagi mereka yang disiapkan untuk menjadi pedagang politik gado-gado Indonesia untuk Papua dan Internasional bisa berpikir dua kali, sebab tidak ada Tuhan pemberi keadilan dalam politik Indonesia yang sarat akan muatan kepentingan kapital Indonesia dan kapital Internasional dalam bingkai sistim imperial NKRI.

Semoga sejarah Uskup Agung Timur Timor, Fransiskus Xaferius Ximenes Bello bisa dijadikan teladan untuk menyelesaikan konflik politik Indonesia vs Papua jika ingin menjadi Tokoh Revolusioner Yesus Kristus Bagi Bangsa Papua.

Nelson Mandela Dan Desmond Gagal Mendaulatkan EKONONI Bangsa Afrika

Semua tahu tentang Nelson Mandela. Beliau adalah simbol kekuatan manusia yang hidup dalam penjara selama 28 tahun dan tidak merima remisi ataupun abolisi dari penjajah Inggris. Semua juga tahu Uskup Agung Afrika Selatan, Desmond Tutu. Keduanya melakukan perjuangan tanpa kekerasan hingga bebaskan Afrika Selatan dari politik Apartheit. Mekanisme yang digunakan mereka berdua adalah perundingan dengan mimpi orang Afrika dapat menikmati segala fasilitas publik dan dapat mencalonkan diri menjadi Legislatif dan Eksekutif. Perjuangan mereka berhasil dengan ditandai melalui pemilu pertama yang diikuti oleh segenap Bangsa Afrika Selatan dimana dalam pemilu itu Nelson mandela terpilih menjadi presiden, yang menjadi simbol terhapusnya Aparteheit di bumi Afrika Selatan.

Meskipun demikian keduanya tidak mampu memberikan kemerdekaan secara ekonomi kepada bangsa Afrika di Afrika Selatan.

Semua orang tahu bahwa Papua adalah gudang SDA di dunia. Atas pengetahuan itu semua mata dari seluruh negara tertuju kesana dan bahkan masuk kesana mengunakan segala cara baik melalui pendekatan agama, bisnis, kepentingan politik dan lain sebagainya.

Indonesia dan Amerika Serikat adalah negara yang saat ini menguasai Papua secara politik dan ekonomi dimana penguasaannya dilakukan secara sepihak (ilegal) tanpa melibatkan masyarakat adat Papua. Pertanyaannya adalah apakah Dialog Jakarta—Papua dapat menghapus kontrak karya III (2021 - 2041) yang telah Indonesia dan Freeport lakukan pada tanggal 27 Agustus 2017 kemarin? Apakah dialog Jakarta—Papua dapat mengubah saham 51% milik pemerintah Indonesia yang diperoleh dari drama panjang pemerintah Indonesia minta saham?

Dialog Jakarta—Papua tidak mungkin bisa membatalkan kontrak karya itu karena kontrak karya merupakan perjanjian yang mengikat pemerintah Indonesia dan Freeport dimana perikatan itu sah dalam hukum perdata Indonesia dan Internasional sepanjang Papua dalam Indonesia. Artinya jika dialog Jakarta--Papua untuk menguatkan Papua dalam NKRI maka situasinya mirip seperti perjuangan Nelson Mandela dan Desmon Tutu, diatas.

Mungkin itu yang dimaksud dengan merdeka secara politik namun dijajah secara ekonomi dalam bingkai neokolonialisme dibawah baying-bayang sistim imprealis NKRI.

Penutup

Allah Bangsa Papua telah mengetuk seluruh penjuru mata angin dunia melalui anak-anak Bangsa West Papua itu sendiri (diplomat Papua) sehingga sudah banyak negara peduli, prihatin dan bersolidaritas untuk mendukung West Papua menentukan sikap politik melalui mekanisme hak menentukan nasib sendiri yang dijamin dalam hukum Internasional.

Hari ini negara itu sudah menguncangkan sidang umum PBB melalui pidato-pidato kenegaraan dimana semua itu dilakukan atas prinsip kemanusiaan yang beradap dalam logika politik internasional yang bermartabat atas prinsip-prinsip HAM yang diakui dunia dan hukum Negara Indonesia.

Praktek dialog Jakarta—Papua yang adalah prodak politik gado-gado Indonesia untuk Papua dan Internasional yang dilahirkan dari rahim birokrat Indonesia yang berwatak militeristik, sesungguhnya hanya untuk melindungi kepentingan saham 51% milik pemerintah Indonesia yang di peroleh dari drama pemerintah Indonesia minta saham itu. Disisi lain untuk melindungi kepentingan eksploitas uranium dari perut bumi Papua oleh Freeport untuk Amerika Serikat. Hal itu dikuatan secara hukum perdata bahwa kontrak karya adalah perjanjian yang mengikat kedua pihak dan menjadi hukum sendiri bagi keduanya yang diakui dalam hukum Indonesia dan Internasional yang tidak bisa dibatalkan melalui Dialog Jakarta—Papua yang bentuknya mirip seperti mekanisme penyelesaian secara adat yang diakhiri dengan ritual perdamaian dalam penyelesaian persoalan perang suku.

Pesan Tengku Muhammat Hasan Tiro terkait watak birokrat Indonesia wajib digaris bawahi jika ingin berpolitik dengan birokrat Indonesia. Belajarlah dari Uskup Agung Timor Timur Fransiskus Xaferius Ximenes Bello jika ingin menjadi Tokoh Revolusioner Yesus Kristus Bagi Bangsa Papua.

Ingatlah selalu pesan Tokoh Revolusionar Yesus Kristus yang tersohor tentang politik kekuasaan yaitu : BERIKAN PADA KAISAR APA YANG KAISAR PUNYA DAN BERIKAN PADA TUHAN APA YANG TUHAN PUNYA. Selanjutnya pesan dari Tokoh Pembebasan Perbudakan Di Amerika Serikat, Abraham Lincol yaitu : SUARA RAKYAT ADALAH SUARA TUHAN.

Untuk mengakhiri uraian singkat ini, akan dimuat kembali pesan seorang Hakim Mahkama Agung Republik Indonesia kepada peserta pelatihan karya bantuan hukum pada tahun 2008. Berikut pesannya :

"Di Negara ini (Indonesia) tidak ada keadilan sehingga jika Anda ingin keadilan maka mintalah ke dunia Internasional. Dengan begitu maka percayalah bahwa cahaya keadilan akan bersinar di tanah airmu"

Artejo Alkostra
(Pengacara Kasus Santa Crus dan sekaligus sebagai Hakim Indonesia pertama yang putuskan Bebas atas Kasus Makar Di Serui)


"Kritikanmu adalah Pelitaku"

Penulis adalah aktivis kemanusiaan, juga mahasiswa yang kuliah di kota Yogyakarta

Sumber Foto: Screenshot dari film di Youtube
Penulis: Zusan  Griapon*


Aku Ingin Menciummu Sekali Saja merupakan salah satu karya film yang disutradarai oleh Garin Nugroho. Film-film miliknya memang mengundang penonton untuk berpikir kritis dalam memahami setiap adegannya.



Film ini sengaja dibuat Neorealisme atau penggabungan antara cerita (kisah nyata) tanpa tambahan  embel-embel tertentu atau interpretasi tertentu. Ciri-ciri khusus dari neorealisme adalah menggunakan dominan artis non –profesinonal, pencahayaan alami serta tempat alami. Waktu pembuatan Film ini pun, saat gejolak politik di West Papua masih debar dirasakan pada tahun 2001. Film ini menarik karena membuat banyak intrepetasi atau penafsiran dari masyarakat West Papua, Indonesia bahkan dunia yang menyaksikannya.


‘Seorang remaja, Arnold (octovianus R. Muabuay) terpanah melihat gadis (lulu tobing) berurai air mata turun dari kapal di dermaga sebuah kota di papua. Ia terus mengikuti semua kegiatan gadis itu, hingga membuat cemburu sahabatnya, Sonya (sonya S. Baransano). Kisah ini diletakan dalam konteks pergolakan sosial-politik papua yang ingin merdeka, meski boleh dibilang tidak ada hubungan antara kisah tadi dengan pergolakan politik di papua, kecuali bahwa ayah Arnold adalah salah seorang aktivis penggerak pembebasan nasional west Papua. Tokoh sang gadis juga dibiarkan misterius hingga ke akhir film, penonton tidak pernah diberi tahun apapuan tentang gadis ini’. Sedikit tentang sisnopsis yang telah disediakan oleh sutradara.

Adapun analisis film :

Aspek sosial budaya

Film ini menceritakan banyak hal tentang interaksi masyarakat sehari-hari, menyelipkan juga unsur gereja (persekutuan seiman ) Kriten Khatolik di kota Jayapura. Menceritakan tentang gereja sebagai tempat mengakui dosa, tempat meratapi kesedihan, serta tempat refleksi untuk jemaatnya. Gereja juga sebagai tempat yang seharusnya membela hak-hak masyarakat yang sedang mengalami peninandasan. Namun dalam film tersebut gereja disitu sebagai tempat penghiburan setiap jemaat yang ingin mengakui dosa lalu memberitakan bahwa harus ada perdamaian dari setiap hari yang terluka.

Menceritakan juga aktivitas keluarga dari Arnold yang hidup dalam kesederhananaan dengan mengkonsumsi  makanan pokok yang hidup di pinggiran pantai (sagu dan ikan ).
Pada aspek budaya terlihat ketika masyarakat Papua berkumpul di Pusat kota Jayapura dengan berbagai atribut pakaian, asesories papua, mereka hadir saat-saat dimana Alm. Theiys H. Eluay sangat kuat perannya dalam mempersatukan suku-suku di Papua. Budaya kami memang memiliki beberapa perbedaan namun bagi manusia West Papua , satu nasionalisme yang mempersatukan. Salah satu bentuk benda nasionalis yang terpapar jelas di dalam film tersebut adalah bendera bintang fajar. Bahkan pada pengatar film ini garin menyuting satu adegan alm. Theys Eluay mencium bendera ini sebelum adegan pertama dari film ini mulai. Adegan ini juga seakan memberi makna sebagai ciuman terakhir alm. Theisy dalam film sebelum akhirnya beliau dibunuh.

Aspek politik

Theys Hile Eluay, tokoh Dewan presidium Papua. Sumber: Internet
Dalam film yang di edarkan 2003, bahkan beberapa adegan dalam film ini justru menceritakan tentang ayah arnold yang merupakan aktivis pembebasan West Papua selalu hadir dalam konggres papua, dalam konggres menyiapkan proklamasi negara West Papua. Media masa cetak maupun TV mengabarkan bagaimana seorang Theys ditangkap, dan diperiksa di kepolisian. Masa tegang tersebut membuat masyarakat west Papua tegang. Mereka menuntut tokoh adat dan masyarakat Papua untuk dibebaskan. Beberapa adegan memperlihatkan masyarakat Papua yang hendak pergi untuk aksi demonstrasi dihadang oleh orang tak di kenal , lalu di pukuli hingga tak bernyawa, ayah Arnold yang merupakan penari burung kasuari melihat hal tersebut lalu lari ke dalam hutan dan bersembunyi dalam baju burung tersebut. Saat itu ayah dari Arnold sedang diincar oleh beberapa orang tak dikenal yang menyerang rombongan truk. Adegan penyerangan truk juga dapat menjelaskan pembungkaman demokrasi di Papua, lalu menceritakan tentang banyak orang  west Papua yang telah dipukuli dan disakiti namun tidak ada media yang meliput atau laporan tentang hilangnya manusia west Papua. Keadaan ayah Arnold juga menginformasikan bagaimana sebenarnya alam dapat turut membantu menjaga dari ancaman niat jahat orang jahat.

Sosol Ibu Pertiwi. Sumber gambar: Internet
Sosok Lulu Tobing sebagai perempuan non-papua yang turun dari kapal putih di pelabuhan Jayapura, terlihat pada wajahnya keletihan, dan gunda yang dirasakannya saat tiba di pelabuhan. Di satu sisi Arnold dan Sonya sedang bermain di pelabuhan dan Arnold pun terpanah pada keindahan sosok lulu. Dalam diskusi lulu ditafsirkan sebagai ibu pertiwi yang sedang bersusah hati seperti lirik lagunya, dalam perannya juga lulu tampak takut dan terus berdoa, dilain sisi Garin memperlihatkan situasi papua yang memanas karena keadaan politik. Arnold yang merupakan anak dari seorang aktivis sekaligus harapan bapa dan mamanya untuk peka terhadap masalah-masalah yang terjadi di west Papua. Namun Arnold terpukau dengan kecantikan Ibu Pertiwi, air matanya membuat Arnold benar-benar ingin menciumnya. Meskipun Arnold sebagai remaja yang masih polos tidak mengerti apakah itu air mata tipuan atau memang air mata kesedihan karena papua seakan tinggal menunggu waktu terlepas dari NKRI.  Dalam perjalanan keindahan Ibu Pertiwi menghipnotis Arnold hingga Arnold pun memberanikan diri untuk datang ke temat tinggal Ibu Pertiwi (lulu) untuk mencium air matanya, saat bersamaan adegan lain menceritakan bahwa alm. Theys Eluay di temukan tewas. Ciuman yang dilakukan Arnold mampu membuat Ibu Pertiwi kembali senang, karena ciuman itu bisa berarti ciuman kembali menjalin kasih bersama di pangkungan Ibu Pertiwi. Ketika Theiys meninggal seakan situasi politik di Papua mengalami perubahan yang sangat dratis, kesedihan menyelimuti hati setiap manusia west Papua. Pemimpin bangsa kami telah pergi sekarang kami hanya bisa merajut mimpi, dengan ciuman itu juga sebagai simbol terjalin kemestraan, sehingga diwujudkan dengan peran Lulu Tobing yang kembali pulang dengan menumpangi kapal putih dengan hati gembira. Namun, pesan lainnya bahwa ayah dari Arnold setelah sekian lama di hutan keluar dan menunjukan dirinya walaupun dirinya dalam ancaman dibunuh.

Aspek Pendidikan dan Perempuan

Film ini juga menceritakan tentang Pendidikan di sekolah formal, ketika ayah Arnold sebagai guru disana menceritakan tentang tentara komando west Papua juga memberikan refleksi mengenai Bangsa Papua. Pendidikan ini sangat penting untuk membangun kesadaran dan kepercayaan diri bagi manusia west Papua. Manusia west Papua mengalami kehilangan jati diri karena segala sesuatu tentangnya telah dibumi hanguskan oleh kejahatan negara. Sehingga di isi dengan pendidikan mengenal Indonesia yang tidak pernah di lihatnya. Pendidikan dalam keluarga juga turut membantu pengetahuan anak, bagaimana peran ayah dan ibu untuk memberikan pengertian atau mengajak diskusi mengenai persoalan Bangsa Papua saat ini.

Aspek Perempuan, mama dari Arnold merupakan sosok perempuan penyayang dibuktikan dengan selalu menemani dan berdoa untuk keadaan bangsa Papua. Mama juga mengerti keadaan dari bapa Arnold yang merupakan aktivis. Arnold pun terus diingatkan dengan kasih sayang tentang keadaan west Papua hari ini. Mama dari Arnold juga dalam film ini, pernah ditegus oleh bapanya karena menangis, menurut budaya orang asli Papua, tanah adalah mama, sebagai penyedia segalanya. Sehingga jika mama (perempuan ) menangis maka tanah ini tidak akan keras lagi, tidak akan subur lagi melainkan pecek dan tidak dapat di olah.

Perempuan lainnya adalah Sonya, Sonya adalah sosok remaja west Papua yang sedang jatuh cinta dan masih sangat labil.

Sonya menanamkan rasa kebencian terhadap perempuan non-Papua karena penindasan yang terjadi, dibuktikan melalui pengakuan dosanya di gereja.



Sonya memperlihatkan betapa diskriminasi yang terjadi terhadap perempuan papua sangat kental terjadi. Perempuan Papua dengan keadaan fisik , kulit lebih gelap, rambut keriting seakan tidak memiliki tempat di Televisi, model-model, iklan, film dan sebagainya. Hal ini juga yang dapat mengikis rasa kepercayaan diri dari perempuan Papua, rasa minder yang mendalam. Namun Pastor(di Gereja) memberikan saran untuk mengampuni dan hidup dengan cinta kasih.


Sosok Perempuan ketiga adalah Lulu Tobing (pada aspek politik sebagai Ibu Pertiwi). Ibu pertiwi ini juga dapat dikaitan dengan sejarah besar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dipimpin oleh Perempuan yaitu Megawati soekarno putri pada tahun 2001.


Sosok Lulu Tobing juga dapat menjelaskan keadaan presiden saat itu yang meratapi keadaan bangsa Indonesia tanpa bangsa Papua, bahkan ketika ciuman yang diberikan Arnold (meskipun karena nafsu) membuat hati sang Ibu Pertiwi senang karenanya. Mungkin ciuman penghianatan yang dilakukan oleh ibu Pertiwi berhasil kepada Arnold yang justru mengharapkan ciuman mesra. Diskriminasi terhadap perempuan Papua akan terus berlanjut jika tidak ada pembebasan nasional west Papua.


Penulis adalah mahasiswa Papua yang sedang kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Juga aktivis self-Determination

Foto bersama usai pemilihan dan pelantikan amp kk Bandung, di asrama Timika, 10 September 2017. Sumber: Doc. Panitia pelaksana

Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota (AMP KK) Bandung telah menggelar pergantian pengurus Komite Kota baru pada, Minggu, 10 September 2017, di Asrama Mimika, kota Bandung. Berakhirnya masa kepemimpinan Kamerad Pian Pagawak (ketua) dan Miton Jigibalon (sejken) serta kawan-kawan pengurus lama, melalui voting, kamerad Robert Wilyam Mayau Terpilih sebagai Pengurus AMP Bandung.

Dalam waktu dekat, ucap Wilyam di akhir simbol serah terima, akan dilakukan penyusunan sturktur untuk melengkapi kerja-kerja kolektif kota.  

Panitia Pelaksana, Natto M Pigai dan Arnold Meage, mengundang/peserta di hadiri dari masing-masing utusan setiap paguyuban, organisasi kedaerahan asal Papua di Bandung, anggota komite kota dan perwakilan Komite Pusat AMP. Kegiatan tersebut diakhiri dengan Doa dan salam serta sayonara, setelah pengucapan sumpah dan janji organisasi. (J)

Sejumlah perempuan Papua Barat di aksi ujuk rasa Aliansi Mahasiswa Papua, peringati 54 tahun HUT Papu, di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, 1 Desember 2015. Sumber: Doc. amp




Penulis
: Fanny Quinea Kogoya


Bentuk kehidupan yang berlaku di lingkup komunitas suku-bangsa di dunia, di mana sistem kekerabatan patrineal juga dikenal dalam kalangan masyarakat Papua. Sistem patrineal yang dipahami umum adalah dominasi peran para kaum dalam segala aspek kehidupan masyarakat. Pandangan yang memengaruhi sistem ini adalah paternalisme. Paternalisme menempatkan posisi kaum Hawa tidak lebih dari perut pelengkap kaum Adam.

Contoh yang paling jelas terlihat dalam sistem perkawinan di Papua. Marga menyanyikan istri dilebur ke dalam marga suami. Tidak hanya itu Posisi perempuan sendiri di mata laki-laki Papua secara turun temurun, telah menjadi sebuah sistem yang baku. Hal itu sulit terhapus begitu saja tanpa proses perkembangan kebudayaan.

Pandangan ini dipercaya masyarakat tradisional sebagai takdir, jadi tidak diakuinya sebagai sebuah penindasan. Sementara dalam masyarakat modern, sistem seperti itu dipandang sebagai bentuk kekerasan dan penindasan terhadap kaum perempuan. Dengan demikian, banyak organisasi pemerintah dan non pemerintah melakukan upaya penghapusan dominasi peran laki-laki terhadap perempuan dalam berbagai aspek di setiap negara.

Simone de Beauvoir, seorang wanita Prancis, dalam bukunya " The Second Sex" , karena "sejak masa patriakal, perempuan secara umum telah ditempatkan pada posisi kelas kedua di dunia yang ada prestasinya dengan laki-laki". Kondisi itu lebih terarah pada kekuatan lingkungan pendidikan dan budaya yang secara sengaja dikontrol dan dikuasai oleh laki-laki. Keberadaan ini tergabung dalam perempuan yang bebas dan merdeka sebagai relasinya dengan kaum laki-laki.

Teori di atas bila terobsesi dengan relasi perempuan dan laki-laki Papua, maka menemukan laki-laki Papua masih dominan dalam hal yang menjadi tujuan dalam kehidupan bermasyarakat. Kondisi ini diperkuat dengan adanya realita dalam kehidupan masyarakat tradisional di Papua yang menempatkan laki-laki sebagai penopang keluarga. Seorang laki-laki bertanggungjawab dalam menyediakan kebutuhan hidup keluarga.

Pandangan kehidupan masyarakat tradisional Papua terhadap laki-laki sebagai superpower dapat dilihat dari kekuatan fisik dan kemampuan laki-laki dalam menjalankan musuh (pada saat perang antar suku). Lenyap, dalam realita kehidupan masyarakat tradisional Papua, laki-laki-manusia.

Contohnya, seperti beberapa hal yang terjadi dalam kehidupan perempuan suku Dani di Wamena. Biasanya, perempuan memiliki waktu kerja lebih banyak dibanding kaum laki-laki. Mulai dari mengasuh anak, simpan ternak (babi), menggelola dan menyediakan bahan makanan.

Sementara itu, hak kebebasan perempuan untuk melakukan segala hal oleh keluarga (sang ayah), misalnya hak untuk sekolah dengan alasan perempuan tidak wajar untuk sekolah. Perempuan yang lahir sebagai pekerja atau penyedia harta bagi keluarga. Termasuk juga dalam dalam pembagian warisan, laki-laki simpanan yang diberikan dari sang ayah, sementara anak perempuan tidak memiliki hak warisan warisan atau warisan peninggalan nenek moyang.

Kondisi kehidupan masyarakat Papua seperti di atas ini tentunya tidak wajar atau dilestarikan di zaman ini. Sebagai bahan renungan bagi laki-laki Papua: "Apalah arti laki-laki Papua tanpa perempuan Papua? Sungguh tidak berarti apa-apa! Ibarat kepala tanpa badan! Atau layak dikatakan: "Hidup tanpa bernafas".

Karena itu, dalam jangka waktu ini, tentunya akan mengharapkan persiapan sumber daya manusia (SDM) yang handal dan siap pakai dalam kondisi apa pun. Maka, untuk mengamanakan waktu seperti ini, SDM perempuan Papua harus menjadi perhatian utama oleh pemerintah maupun keluarga. Sebab, keberhasilan perempuan di dunia globalisasi akan memengaruhi kemajuan mundurnya hidup bagi masyarakat Papua dalam segala aspek kehidupan.

Setelah melihat beberapa catatan di atas, perlu ada satu agenda perjuangan dalam mengangkat posisi perempuan Papua yang setara dengan kaum laki-laki Papua. Tentunya dalam berbagai aspek kehidupan.

Hal yang dilakukan oleh aktivis perempuan Papua seperti Mama Yosepha Alomang di Timika. Dengan segala kesederhanaannya, Mama Yosepha bangkit dan mempertanyakan posisi perempuan Papua sebagai orang yang merdeka dan bebas, melalui perjuangannya melawan PT Freeport Indonesia. Ia melawan Freeport yang menghancurkan seluruh ekosistem kehidupan masyakat Papua yang hidup di areal tambang perusahaan raksasa itu.

Karena itu, sudah saatnya kaum perempuan diberikan hak untuk memperjuangkan harkat dan martabatnya sebagai ciptaan Tuhan. Mereka bukan lagi manusia kedua. Mereka tidak lagi selalu berada di dapur. Seberat apa pun sebuah pekerjaan yang dilakukan kaum laki-laki Papua, perempuan Papua pun sanggup melaksanakannya.

Kehidupan kaum tanpa perempuan. Dalam banyak hal, perempuan sangat dibutuhkan lelaki. aturan sejarah Papua menceritakan, perempuan Papua sebenarnya adalah "roh" yang memberikan kehidupan bagi bangsa Papua.

Oleh karena itu, pandangan sempit dari kalangan laki-laki yang inginnya diubah. Lantaran pandangan seperti itu perempuan Papua selalu dihormati kaum lemah yang tugasnya melahirkan dan menyiapkan makanan di dapur. Intinya, mereka tidak boleh lebih dari laki-laki.

Inilah gugatan perempuan Papua saat ini. Perempuan Papua menggugat tentang cara pandang dan penempatan mereka dalam budaya Papua yang sangat menyiksa dan bahkan melanggar hak asasinya itu.

Penulis adalah Aktivis Perempuan Papua Barat.

Ratusan massa aksi Aliansi Mahasiswa Papua berdemonstrasi di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, peringati 53Tahun Deklarasi Negara West Papua, 1 Desember 2014

Penulis: Benggwak

Tulisan ini dikhususkan bagi seluruh mahasiswa/i Papua yang kuliah di berbagai kota di Papua, Papua Barat maupun berbagai kota-kota di pulau Jawa, Bali, Sumatra, Sulawesi, Maluku dan Kalimantan, serta di luar negeri.

Judul tulisan ini terkesan sangat provokatif. Ya,  memang saya sengaja memberikan judul tulisan ini dengan kata-kata kerja yang bersifat provokasrif  yaitu “wajib”, “terlibat aktif”, “memperjuangkan” seperti yang tersusun pada kalimat yang menjadi judul di atas, dengan tujuan untuk memprovokasi kawan-kawan mahasiswa agar mengambil bagian terlibat dalam perjuangan pembebasan nasional West Papua, alias kawan-kawan mahasiswa tidak hanya kuliah-kuliah saja dengan menghabiskan waktunya selama masa kuliah di dalam kampus dengan hanya belajar teori, atau menghabiskan watu di kamar kos, asrama, mall atau bioskop. Tetapi harus juga melibatkan diri dalam gerakan pembebasan nasional dengan mengunakan ilmu yang dimilikinya itu untuk melakukan sesuatu dalam bentuk tindakan nyata/berpraktek untuk perubahan bagi rakyat Papua.

Mengapa mahasiswa Papua harus terlibat dalam perjuangan kemerdekaan? Mengapa mahasiswa Papua harus mengunakan ilmunya untuk melakukan perubahan bagi rakyat Papua? Jawabannya adalah karena, Pertama: Mahasiswa (kalian) adalah bagian dari kelompok masyarakat Papua yang secara umum yang sedang memperjuangkan kemerekaan untuk bebas dari penjajahan indonesia; Kedua: Mahasiswa adalah bagian dari masyarakat Papua yang juga menjadi korban. secara internal artinya mahasiswa Papua juga menjadi korban karena ada hak-hak mahasiswa Papua yang tidak di penuhi atau diabaikan, atau bahkan ada sistem dalam dunia pendidikan yang menindas. Sedangkan secara eksternal mahasiswa Papua adalah bagian dari masyarakat Papua secara umum yang mengalami penjajahan dari bangsa Indonesia; Ketiga: mahasiswa Papua adalah bagian dari kelompok masyarakat intelektual yang secara social memiliki peran dan tanggung jawab moral mengunakan ilmu pengetahuannya untuk menjawab persoalan hidup masyarakat, membuat perubahan dari situasi buruk masyarakat menjadi lebih baik, menagatasi atau memberikan solusi dari hasil kajian atau kerja ilmiahnya kepada masyarakat untuk keluar dari masalah yang dialamainya. Sebab ilmu pengetahuan sendiri secara harafia adalah milik rakyat (public) alias ilmu itu dilahirkan atau dibentuk oleh masyaraka.  Oleh sebab itu, ilmu pengetahuan itu harus mengapdi kepada rakyat. Dengan demikian mahasiswa Papua harus mengunakan ilmu pengetahuan yang dimilikinya untuk mengapdi kepada kepentingan rakyat Papua. Karena jika ilmu pengetahuan yang kalian dipelajari itu tidak dipakai untuk menjawab problem-problem masyarakat Papua (atau masyarakat lain) maka ilmu yang kalian pelajari dan miliki  itu akan kehilangan maknaya. Ia akan kehilangan nilainya dan funsginya sebagai ilmu pengetahuan.



Dalam konteks Papua siapakah yang dimaksut sebagai rakyat? Tentunya yang dimaksud dengan rakyat di sini adalah orang-orang yang tinggal di seluruh Papua yang tidak memiliki atau tidak terlibat dengan kauasasan pemerintahan, atau tidak merupakan golongan kelas atas yang kaya raya. Rakyat adalah  orang-orang terpinggir, miskin, dan menjadi korban penjajahan. Rakyat tidak termasuk kaum elit, kaum yang dekat atau memiliki kekuasaan dengan pemerintahan atau modal.

Sejarah keterlibatan mahasiwa dalam pembebasan rakyat di Dunia

Mengembang tanggungung jawab mahasiswa sebagai masyarakat intelektual dan sebagai tanggung jawab social sebagai bagian dari masyarkat, serta berperan dan bertanggung jawab atas ilmu pengetahuan dan kebenaran telah banyak dilakukan dengan penuh tanggung jawab dangan gigih oleh berbagai mahasiswa di dunia untuk membebaskan rakyat dari penindasan.

Dalam catatan sejarah, ada berbagai mahasiswa-mahasiswa yang pernah terlibat dalam gerakan perlawanan terhadap penindas yang menindas rakyat yaitu colonial atau sitem ototitarian dalam suatu bangsa. Perlawanan mereka secara konsisten. Bahkan mereka berhasil membebaskan rakyatnya dari penindas dan kemudia mereka menjadi pemimpin-pemimpin rakyatnya yang terus menerus-menerus memperjuangkan kepentingan rakyatnya bangsanya hingga ajalnya. Beberapa mahasaiswa dimaksut antara lain Fidel Castro di Chuba di Kuba yang mampu berhasil menumbangkan resim diktaor Fulgencio Batista, Srdja Popovic di Serebia bersama Otpor berhasil mengulingkan dictator Slobodan Milosevic tahun 2000 , Camila Vallejo, Carol Cariola di Chili mampu membangun kekuatan gerakan mahasiswa menolak privatisasi pendidikan, mereka mampu memaksa pemerintah mengenjot dana bagi pendidikan yang menhasilkan berbagai program di dunia pendidika Chili. Termasuk di Indonesia sendiri terdapat beberapa tokoh pendiri bangsa yang selama kulia aktif dalam gerakan mahasiswa yang pro kemerdekaan Indonesia, bahkan pergerkan mereka dari mahasiswa itu kemudian mengantar mereka sebagai pimpinan-pimpinan revoluasioner yang memeredekaan Indonesia. Mereka diantaranya adalah Seokarno, Hatta, Tan Malaka, Syahrir, Achmad Soebardho dan beberapa tokoh-tokoh lainnya. Perjuagan Seokarno dan Sultan Syahrir suda dimulai sejak keduanya menempu pendidikan lanjutan (sama seperti kulia) di Bandung. Sedangkan Hatta, Tan Malaka, Achmad Soebardjo mulai terlibat dalam perjuangan semenjak mereka bersekolah di Belanda, dengan memulai dari kelompok-kelompok diskusi.  Pemimpin bangsa Indonesia ini  semejak menempu sekolah lanjutan (status seperti mahasiswa) sudah mulai terlibat dalam perjuangan kemeredekaan, mereka aktif mendiskusikan persoalan-persoalan kebangsaan. Ketertlibatan mereka semenjak kuliah itu  kemudian mengantarkan mereka berdiri bersama rakyat dan memimpin rakyat  melakukan perlawanan. Hingga memebebaskan rakyat indonesia dari penindasan kolonial Belanda.

Tidak bisa dipungkiri keterlibatan para tokoh-tokoh ini  tidak hanya sebatas berperan sebagai pelengkap atau hanya sebagai gerakan taktis belaka dalam strategi perlawana, tatetapi peran dan gerakan para mahasiswa ini sangat strategis. Bahkan dari pengalama para tokoh-tokoh di atas, mereka menjadi tokoh-tokoh revolusi yang militan, selama berjuang saat sekolah mereka menjadi kader-kader progresif di organisasi-organisasi masing-masing . Contoh Fidel Casto, Srdja Popovic, Tan Malaka, Seokarno dan Hatta adalah bukti nyata yang menunjukan gerakan mahasiswa memiliki peran yang sanga strategis dalam gerakan pembebasan rakyat tertindas di dunia.

Sama halnya bagi perjuangan nasional kemerdekaan West Papua, mahasiswa Papua merupakan satu elemen yang sangat potensial dalam gerakan perjuangan kemerdekaan yang harus memposisikan dirinya di depan garis perlawanan untuk melakukan perlawanan bersama rakyat merebut kemerdekaan.

Bentuk Keterlibatan Mahasiswa Papua

Keterlibatan mahasiswa Papua dalam pembebasan nasioanl harus berangkat dari kondisi-kondisi objektif yang dialami oleh masyarakat Papua (termasuk kondisi objektif/persoalan mahasiswa) yang kemudian menjadi tonggak pergerakan. Dengan kemapuan intelektualnya, secara ilmiah mahasisawa Papua harus mengungkit apa akar pendidasan rakyat Papua? Bagaimana bentuk penindasan atau bentuk-bentuk konflik yang terjadi dalam masyarakt? Apa yang diinginkan oleh masyarakat (secara kolektif/bukan pribadi)? Bagaimana cara membebaskan rakyat dari penindasan? Serta bagaimana membangun masyarakat dalam suatu tatan hidup yang menjamin kehidupannya lebih baik.

Dari kondisi objektif yang dialaminya dan diamati itu kemudia mahasiswa Papua harus mengembangkan strategi taktik sebagai rel pergerakannya untuk membebaskan rakyat papua dari penindasan itu.

Sebaliknya pergerakan mahasiswa tidak mestinya terjebak, keliru/salah arah atau dihentikan oleh paham-paham sempit seperti paham colonial, paham primodial, paham fundamentasil radikan agama atau paham dari kekuasaan yang menindas. Gerakan mahasiswa harus mengunakan sinjata intelektualnya menemukan solusi-solusi tepat yang dapat menguatkan dan memajukan gerakan secara kualitatif dan juga kuantitatif.

Bentuk keterlibatan mahasiswa ini harus dilakukan secara nyata dalam bentuk kontribusi kajian-kajian, pikiran atau ide-ide kritisnya dan juga bergerak memimpin perlawanan di lapangan perlawanan yaitu terlibat dalam demonstrasi menyerukan tuntutan politik atau agenda-agenda demokrasi dan HAM, terlibat mengorganisir rakyat dan membangun alat perjugan rakyat, membangun persatuan perjuangan, memobilisasi dan memimpin rakyat melakukan perlawanan, melakukan pendidikan-pendidikan dibasis rakyat, melakukan kampanye seara massif, serta mengembangkan berbagai cara lainnya yang berdapak positif bagi kemajuan pergerakan.

Dengan latar belakan ilmu pengetahuan yang ia miliki, mahasiswa harus mengunakan pengetahuannya itu untuk memajukan setiap sekotor perjuangan. Selain kontribusi konkrin dalam bentuk aksi dan mobilisasi, keterlibatan dalam perjugangan itu juga dalapat dilakukan degan berbagai macama cara. Misalnya, mahasiswa yang menekuni pengetahuan teknologi informatika, ia dapat terlibat dalam perjuangan dengan melakukan membangun sistem komunikasi, alat/media komunikasi secara aman bagi kelompok-kelompok perjuangan; Mahasiswa yang menekuni ilmu jurnalistik dan media misalnya dapat membangun komunitas-komunitas media sebagai alat penyaluran informasi dan propaganda oleh organ gerakan dengan rakyat; Mahasiswa yang menekuni ilmu kesehatan dapat mengunakan ilmu medisnya untuk mengobati rakyat atau korban-korban kekerasan apara atau mengorganisir rakyat untuk memperjuangkan hak-haknya hak-hak kesehatannya. Ia dapat mengunakan isu kesehatan untuk membangun kesadaran rakyat untuk melakukan perlawanan. bahkan tindakan paling revolusioner ia dapat membangun klinik-klik kesehatan rakyat yang memiliki perspektif pembebasan nasional yang berfungsi mengobati penyakit yang diderita rakyat secara jangka pendek, dan secara jangka panjang ia membanngun sistem tatanan kesehatan rakyat untuk kepentingan nasional bangsa Papua; Mahasiswa yang menekuni ilmu pendidikan juga sama, ilmu penidikan yang ia miliki dapat digunakan untuk mengembangkan pengetahuan rakyat dengan membangun sekolah-sekolah rakyat, menegajar rakyat baca tulis, membangun sistem pendidikan rakyat yang berperspekif pembebasan, cintah tanah air, mendidik rakyat untuk sadar akan penindasan yang dialami, bahkan pendidikan idiologi dan politik pun harus diberikan kepada rakyat. Gerakan yang sama juga harus dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswa yang menekuni berbagai pengetahuan lainnya seperti Mahasiwa yang memperlajari ilmu Theologi, Hukum, Politik, Ekonomi, Fisika, Geolegi, Budaya dan berbagai ilmu-ilmu lainnya.

Dengan terlibatnya seluruh mahasiswa Papua dalam perjuagan pembebasan nasional tentunya akan turut memajukan gerakan Pembebasan nasiolan secara kuantitas maupun kualitas perjuganan. Secara kuantitas adanya penambahan kekuatan yang menjadikan gerakan perlawanan semakin besar dan kuat. Secara kualitas dengan perspektif itelektual yang melahirkan gagasan progresif dan enerji yang dimilikinya itu, gerakan pembebasan akan maju dari segi strategi takti, program-program perjuganan  politik dan idiologi akan mengalami kemajuan, gerakan perlawanan akan mencapai kemenangan dari tiap-tiap perlawanan yang dilakukan.

Dan tentunya keteralibatan mahasiswa ini akan memastikan perjuangan pembebasan nasioanl akan menempatkan mahasiswa sebagai bagian dari penentu pembebasan dan menjadi kelompok yang akan mengawal perjuagan. Sehingga semua cita-cita perjuangan yang diperjugangan dan harapan rakyat dapat dikawal, hingga terwujut.


Jakarta, 31 Juli 2017.

Gambar Ilustrasi Freeport
Oleh: Rudy Pravda

Anjing penjaga modal

Sekali dibiarkan akan juga menerkam dengan sebengis-bengisnya
Tak sungkan-sungkan, mengelontorkan dana jutaan dolar untuk pengaman modal

Sokongan senjata dan sarana-sarana perang mematikan
Memanipulasi segala bentuk propaganda hitam

Khayalan atau kemasyhuran

Begitulah bayang-bayang yang diimpikan tuan-tuan serakah
Berselimut palsu dibalik dambaan tengkorak dan bangkai manusia
Mencekik tanpa ampun
Suara dan napas sekalipun tak dibiarkan meluap ke udara

Binatang berkaki dua

Corong itu bernama kapital mesin ketik
Membumikan segenap selembar kertas
Ucapan dan setangkai kata-kata bualan mimpi
Terbayang-bayang uang-uang-uang

Menggunakan kapital militerisme untuk pembasmian
Menunjukan kemampuan kapital militerisme
Mencari obat mujarab disetiap adanya perlawanan massa
Tak disia-siakan, selagi ada peluang tumpaskan sampai rusuk kelihatan patah dan keluar darah

Mengerikan, kisah binatang berkaki dua

Hidupnya penuh bangkai dan darah
Holocaust pembasmian sosial tanpa pamrih
Dengan tempo yang sesingkat-singkatnya
Berkenan tak absen bila ada yang keluar menunjukkan diri/artinya yang tersisa

Mengerikan;

Binatang berkaki dua
Ada dimana-mana
Di Eropa
Amerika
Asia
Australia
Terkhususnya Indonesia dan Papua
Semuanya sayarat dengan pembantaian
Penindasan secara sistematis terlihat struktur kebijakannya
Syarat dengan kekerasan tak berkemanusiaan

Inilah hidup, binatang berkaki dua, anjing penjaga modal, manusia menjadi santapan buruan.
Diberdayakan oleh Blogger.