Halloween party ideas 2015

Gambar ilustrasi. 
Penulis: Arnold Ev. Meaga*

Tumbuhnya Nasionalisme Indonesia

Nasionalisme Indonesia adalah suatu gerakan kebangsaan yang timbul pada bangsa Indonesia untuk menjadi sebuah bangsa yang merdeka dan berdaulat. Sejak abad 19 dan abad 20 muncul benih-benih nasionalisme pada bangsa Asia Afrika khususnya Indonesia. Nasionalisme tumbuh diindonesia dimulai setelah munculnya Serikat Islam. Budi Oetomo yang sudah terbentuk dahulu merupakan organisasi "elit" sehingga tidak berkontribusi dalam menumbuhkan nasionalisme diseluruh kalangan masyarakat. Serikat Islam melakukan berbagai upaya dalam menumbuhkan nasionalisme di seluruh daerah hindia belanda pada waktu itu.

Karena adanya faktor pendukung diatas, maka di Indonesia pun mulai muncul semangat nasionalisme. Semangat nasionalisme ini digunakan sebagai ideologi/paham bagi organisasi pergerakan nasional yang ada. Ideologi Nasional di Indonesia diperkenalkan oleh Partai Nasional Indonesia (PNI) yang diketuai oleh Ir. Soekarno. PNI bertujuan untuk memperjuangkan kehidupan bangsa Indonesia yang bebas dari penjajahan. Sedangkan cita-citanya adalah mencapai Indonesia merdeka dan berdaulat, serta mengusir penjajahan pemerintahan Belanda di Indonesia. Dengan Nasionalisme dijadikan sebagai ideologi maka akan menunjukkan bahwa suatu bangsa memiliki kesamaan budaya, bahasa, wilayah serta tujuan dan cita-cita. Sehingga akan merasakan adanya sebuah kesetiaan yang mendalam terhadap kelompok bangsa tersebut.

Oleh sebab itu dengan tumbuh nasionalisme Indonesia secara evolusioner sejak pada abat 19 dan 20 bersamaan denga bangsa-bangsa di dataran asia afrika, sehingga bangsa Indonesia pun dapat mengusir penjajahan Hindia Belanda pada saat itu dengan semangat nasionalisme yang di motori oleh mereka kelompok kaum terpelajar asal pribumi itu sendiri (Indonesia). Dan ideal yang di harapkan oleh bangsa Indonesia pun terjadi dan tercapai pula, yaitu kemerdekaan bangsa Indonesia dari bangsa Penjajah pada 17 agustus 1945. Namun rakyat Indonesia sendiri masi bingung dengan apa itu arti dari pada nasionalisme negra Indonesia ini sendiri, sebab rakyat Indonesia sendiri dapat di intimidasi, direpresifitas, ditindas, digusur tempat pemukiman mereka (Rakyat Indonesia), bahkan sampai dengan penagkapan, pemukulan sampai dengan dibunuhpun kerap di implementasikan oleh negara melalui mekanisme aparat Militer/Polri dan sejenisnya. Sehingga hal serupa menimbulkan rasa nasionalisme rakyat Indonesia sendiri menjadi menurun bahkan tidak ada sama sekali. Maka tak jarang pula asumsi masyarakat Indonesia terhadap nasionalisme Indonesia adalah nasionalisme darah yang artinya banyak mendatangkan destruktif dan kematian bagi rakyat Indonesia ini sendiri, makanya nasionalisme Indonesia hanya sekedar nasionalisme belaka, yang pada hakikatnya sudah tidak di anggap lagi oleh rakyat Indonesia ini sendiri. Sekalipun ada namun itu hanyalah sebagian daripada kelompok dan golongan konservatif.

Nasionalisme Kemanusiaan

Dalam sebuah kesempatan, Bung Karno pernah mengutip perkataan salah satu pemimpin (spiritual) India Mahatma Gandhi: My nationalism is humanity. Nasionalisme di mata Bung Karno selalu terikat dengan kemanusiaan.

Dalam pidatonya di Sidang BPUPK I Juni 1945, Soekarno mewanti-wanti adanya bahaya yang tersirat dalam nasionalisme. “Bahayanya adalah mungkin orang akan meruncingkan nasionalisme menjadi chauvinisme, sehingga menjadi Indonesia uber Alles,” ujar Soekarno. Nasionalisme dapat berpotensi menjadi ikatan identitas tertutup yang mengerikan, seperti nasionalisme Jerman pada zaman Adolf Hitler dengan semboyan Deutschland uber Alles.  Kita tahu bahwa nasioalisme Jerman ini bertanggung jawab atas pembunuhan massal terbesar sepanjang sejarah kepada enam juta orang Yahudi.

Karena itu, Bung Karno mengatakan nasionalisme harus membuka dirinya prinsip kemanusiaan. Nasionalisme kita harus mengarah pada penghargaan terhadap martabat rakyat Indonesia sebagai manusia yang bermartabat. Kemanusiaan membuka sekat-sekat ketertutupan relasi antar sesama manusia Indonesia dan juga relasi antar manusia Indonesia dengan manusia dari negara lainnya. Karena itu nasionalisme menjadi kesempatan memperjuangkan terwujudnya kemanusiaan secara universal yang tercapai melalui upaya untuk memperjuangkan perdamaian dan keadilan dunia, dan juga memuliakan hak asasi manusia. Oleh sebab itu dalam bangsa dan negara Indonesia saat ini nasionalisme Indonesia di perlukan konservasi-konservasi oleh negara ini sendiri, sebab nasionalisme Indonesia telah melenceng keluar dari jalurnya. Sehingga rusaknya nasionalisme Indonesia tersebut dapat mendatangkan berbagai macam gejolak politik, ekonomi, sosial buday dan lain-lain pada lingkungan sosial di dalam negri ini sendiri (Indonesia).

Perlawanan Rakyat Indonesia

Dengan krisisnya nasionalisme (NKRI), sehingga mendatangkan respon dari berbagai kalangan masyarakat, pelajar, mahasiswa, Institusi-institusi dan lain sebagainya terhadap negara Indonesia ini sendiri. Adapun respon yang di implementasikan oleh rakyat Indonesia adalah dengan cara melancarkan demonstrasi dalam rangka memprotes dan menuntut segala kekejaman, ketidak adilan, ketidak makmuran, ketidak damaian, tindakan ketidak manusiawian oleh negara kesatuan repulik Indonesia (NKRI) terhadap rakyat. Agar hendaknya negara sendiri menyadari bahwa segala macam aturan dan peraturan yang di terapkan terhadap rakyat melalui berbagai macam sistem tersebut banyak yang mendatangkan kedestruktifan atas rakyat Indonesia ini sendiri, sebab semua aturan negara sebagian besar hanya berpihak pada kaum dan kelompok oligarki semata tidak untuk rakyat. Sehingga hal tersebut hanya akan mendisintegrasikan bangsa Indonesia ini sendiri yang pada akhirnya akan mendatangkan destruktifitas dalam jangka waktu yang panjang atas rakyat dan bangsa Indonesia pula.

Dukungan Rakyat Indonesia Dalam Perjuangan Kemerdekaan Bangsa West Papua

Saat ini Nasionalisme Indonesia berada dalam keadaan yang sangat genting, dan Nasionalisme Indonesia yang kerap kali mendatangkan bencana ketidak adilan, ketidak makmuran, ketidak damaian bahkan mendatangkan hal-hal ketidak manusiawian terhadap rakyat bangsa west Papua sejak pada 1 Mei 1963, pada saat Papua di integrasikan kedalam negara kesatuan repulik Indonesia, yang pada hakikatnya bangsa West Papua tersebut di aneksasi secara Paksa dan penuh  dengan pemanipulasian sejarah, dan di bawa tekanan angkatan bersenjata Indonesia pada saat itu.

Sehingga saat ini rakyat Indonesia yang menyadari dan mengetahui latar belakang historis perjuangan politik Pembebasan Nasional Papua Barat, menyadari bahwa, bangsanya sendiri telah melakukan sikap ketidak manusiawian dan penindasan serta penjajahan terhadap rakyat bangsa West Papua. demikialah hal tersebut mendatangkan responsif dari bangsa Indonesia sendiri untuk bangkit dan bersolidaritas bersamaan dengan rakyat bangsa West Papua, dalam menuntut kemerdekaan rakyat Papua yang sudah di deklarasikan pada 1 Desember 1961. Namun kemerdekaan tersebut telah di hancurkan oleh Indonesia dengan di keluarkannya perintah Tri Komando rakyat (Trikora) pada 19 Desember 1961 yang isinya adalah:

1.      Gagalkan negara boneka Papua buatan Belanda kolonial,
2.      Kibarkan sang merah putih di Irian Barat tanah air Indonesia,
3.      Bersiaplah untuk mobilisasi umum guna mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan tanah air dan bangsa.

Sehingga Tri Komando rakyat (Trikora) adalah awal mulainya penjajahan Indonesia terhadap rakyat bangsa West Papua, setelah bebasnya Indonesia dari cengkraman kolonialisme Hindia Belanda. Sehingga saat ini bangsa West Papua tersebut dapat hidup berdampingan dengan Indonesia. Namun karena pengintegrasian Papua hidup bersama Indonesia di lakukan dengan cara melanggar hak asasi manusia (HAM), dan penuh dengan intimidasi terhadap rakyat Papua, sehingga hal itu telah di ketahui pula oleh rakyat Indonesia saat ini yang tumbuh sebagai bangsa Indonesia yang kritis dan berjiwa kemanusiaan, yang mana saat ini bangsa Indonesia yang sadar atas kesalahan bangsanya dan sadar pula akan hal kemanusiaan yang saat ini pula, lagi dan sedang mendukung perjuangan Pembebasan Nasional Papua Barat menuju ideal absolut.

Nasionalisme Bangsa Papua Saat Ini

Pengertian Nasionalisme menurut kamus besar bahasa Indonesai (KBBI) adalah paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan negara sendiri; sifat kenasionalan: -- makin menjiwai bangsa Indonesia, kesadaran keanggotaan dalam suatu bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabadikan identitas, integritas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa itu; semangat kebangsaan.

Nasionalisme Indonesia tetaplah nasionalisme Indonesia, Nasionalisme Indonesia tidak bisa di jadikan nasionalisme bangsa West Papua, demikian pula Nasionalisme bangsa West Papua tak dapat pula di paksakan untuk di hilangkan/dihapuskan dari jiwa orang-orang Papua, begitupun sebaliknya nasionalisme Indonesia tak dapat di hilangkan/dihapuskan dari jiwa orang-orang Indonesia pula. Indonesia adalah bangsa yang besar dan memiliki etnis dan bahasa yang sangat heterogen mulai dari batavia (Jakarta) sampai dengan Amboina (Tidak Papua), dan pada hakikatnya Nasionalisme Bangsa Indonesia pun tak sama dengan Nasionalisme Bangsa West Papua. begitupun Papua adalah sebuah bangsa yang besar sama persis denagan Indonesia, memiliki etnis dan bahasa yang sangat heterogen pula, dan Bangsa Papua adalah bangsa yang merdeka dan berdaulat layaknya bangsa-bangsa lain yang ada di bumi ini, namun kemerdekaan rakyat bangsa West Papua tersebut telah di hancurkan dengan atas nama Nasionalisme Indonesia. Namun Nasionalisme Indonesia sama sekali tak di anggap oleh orang-orang Papua sejak Papua di aneksasi masuk ke dalam bingkai negara kesatuan repulik Indonesia (NKRI) pada 1 Mei 1963 sampai dengan saat ini.

Oleh sebab itu, Separatis adalah bagian daripada Nasionalisme rakyat bangsa West Papua itu sendiri, sebab separatisme sudah ada sejak 1963 sampai dengan saat ini. Oleh sebab itu watak separatisme telah dan sudah tumbuh subur dalam jiwa seluruh rakyat bangsa West Papua, jika saja asumsi pemerintahan kolonialisme (Indonesia) bahwa, kelompok separatis hanya terdiri dari kelompok kecil saja yang ada saat ini, maka asumsi tersebut sangatlah keliru. Seluruh rakyat bangsa West Papua hanya cinta akan tanah air West Papua tidak Indonesia, Nasionalisme bangsa lain tak dapat di hapuskan atau di paksakan untuk di lupakan oleh bangsa lain pula. Nasionalisme Papua tetaplah nasionalisme Papua, itu hakikatnya.

*Penulis adalah aktivis Self Determination, anggota AMP Bandung
_________________
Sumber Referensi:

http://kammi.org/index.php/2017/01/19/nasionalisme-kemanusiaan-dan-hak-kemerdekaan-seluruh-bangsa/

Gambar aksi FRI WP dan AMP peringati 56 tahun HUT West Papua pada 1 Desember 2017di Jakarta, Depan Gedung LHB.

Penulis: Beyaz Cum Ap*

Mahasiswa adalah agen perubahan. Tulang punggung bangsa. Sejarah juga menceritakan tentang Mahasiswa sebagai pelopor perjuangan pergerakan Kemerdekaan Nasional. Mahasiswa/kaum terpelajar memainkan peran penting dalam perjuangan pembebasan nasional/pembebasan rakyat tertindas.

Bagaiman dan kapan peran Mahasiswa Papua dalam “Papua Merdeka”?
Peran mahasiswa atau kaum cendekiawan memainkan peran penting dalam perjuangan pembebasan Nasional Papua Barat. 1 Desember 1961, hari nasional West Papua adalah puncak dari kehendak rakyat Papua untuk Merdeka dari Kolonialisme Belanda, yang didorong oleh kaum terpelajar Papua, yang tergabung dalam Dewan New Guinea Rad—yang merancang dan menentukan atribut Negara West Papua. 1978-84, Gerakan Seni Musik Lokal, Group MAMBESAK yang mengangkat nasionalisme Papua setelah Pepera (1969) dilakukan dibawa tekanan militer, yang dipelopori oleh Mahasiswa Antropologi Univesitas Cendrawasih, Arnol C. AP (24 tahun). Mambesak membangkitkan Nasionalisme/Persatuan dan perlawanan lewat syair ukulele dan Mob (komedia kas Papua). Ia dibunuh Oleh Kopasus karena gerakannya dianggap mengancam Negara Indonesia. Musa Mako Tabuni, sejak di usia 20an tahun, Mako memimpin gerakan Menuntut Referendum di Kota Menado semasa Ia kuliah. Usai menamatkan sarjana Hukum, Mako Tabumi kembali ke Papua, dan memimpin gerakan di Kota Timika. 2008, Ia terpilih sebagai Ketua Umum Komite Nasional Papua Barat yang pertama. Memimpin gerakan dengan ribuan massa rakyat Papua Barat menuntut Kemerdekaan hingga 2012, Ia ditembak oleh tim Khusus Militer Indonesia.

1996, Gerakan Mahasiswa Papua di Jayapurat yang di pimpin oleh Benny Wenda (kini Juru Bicara ULMWP[2]) memprotesi kematian Dr. Thomas Wanggai. 1997 gerakan Mahasiswa Papua di Papua yang memprotesi Pembantaian TNI di Mapenduma, yang mengakibatkan kematian puluhan hingga ratusan warga Mapenduma. 1998, gerakan Mahasiswa yang berorientasi pada “Papua Merdeka” pun terbentuk, yakni Aliansi Mahasiswa Papua (AMP). Hingga saat ini, AMP dan Gerakan Mahasiswa yang menuntut “papua merdeka” terus melakuan perlawanan terhadap sistim yang sedang menjajah. 2006, Front Pepera terbentuk dan melakuan aksi tutup Freeport di Jayapura, yang sering kita dengar Peristiwa “Abe Berdarah”. Gerakan ini di motori oleh kaum pemuda dan Mahasiswa dari Papua dan dari Jawa. 2008, Mahasiswa Papua di Jawa melakukan eksodus ke Papua; bersatu dengan Pemuda dan Mahasiswa di Papua, menduduki Jayapura, kemudian melahirkan organisasi Komite Nasional Papua Barat, yang dimotori oleh pemuda dan Mahasiswa, yang masih terus melakuan perlawanan bersama massa rakyat West Papua.

Kenapa Mahasiswa Harus Berjuang Untuk Papua Merdeka?
Dalam berbagai sejarah kemerdekaan nasional, mahasiswa sangat berperan penting dalam perjuangan melawan kolonialisme dan Imperialisme. Melawan sistim yang menindas rakyat-bangsa, menguras kekayaam alam untuk mengakumulasi capital pemodal.

Rakyat Papua sedang berada dalam kondisi objektif yang terjajah. Kondisi tersebut tak tercipta begitu saja. Pertama, Sejarah aneksasi melalui Pepera (1969) yang belum selesai. Kedua, Sumberdaya alam yang dikuasai, dan dieksploitasi secara brutal yang mengakibatkan pada kelangsungan hidup orang Papua. Ketiga, persoalan depopulasi. Angka kematian yang meningkat drastis hingga menuju pada pemusnaha. Yang keempat, dehumanisasi dan otonomisasi manusia. Secara nasional Butah huruf rangking satu di Papua, kemiskinan, dan kesehatan buruk diatas rumpur emas, serta kaum terpelajar/intelektual papua pun dijerat dalam sistim pemerintahan yang terpusat/terstruktural dari Jakarta—sebagai pusat pemerintahan kolonial. Sehingga orang papua yang tak terberdayakan, makin termarginalkan diatas negerinya sendiri seraya kekerasaan militer yang makin mengakar di Papua.

Kondisi ini menjelaskan maksud daripada semua itu adalah kepentingan Imperialisme Amerika Serikat dan Indonesia untuk menguasai sumber daya Alam Papua. Dua tahun sebelum Pepera, pada 1967, perusahaan Raksasa Milik AS dan 23 Negara lainnya menduduk di Timika dan beroperasi disana. Pada tahun 1935, Perusahan Minyak milik Belanda di Papua, NNGPM, tepatnya di Sorong, 60% saham dikuasai oleh Amerika atas Negosiasi Kepada  Pusat Inteligen (DCI), Allan Dulles—sang legendaris, menurut Greg Poulgrain.

Selain itu, Indonesia mengambil alih semua asset-aset sumber daya alam milik Belanda pasca 1960an, setelah Belanda angkat kaki dari Papua pada 1962-63. Hingga kini, SDA Papua merupakan Paru dunia; menjadi rebutan bagi Negara-negara adikuasa untuk mengakumulasi capital pemodal.

Sehingga, jelas, seperi yang diutarakan oleh Jenderal Ali Moertopo (1962) dan Luhut Panjahitan (2015) bahwa menguasai papua oleh Indonesia, tentunya bukan untuk manusianya. Tetapi kekayaam alam yang merupakan profit capital bagi pemodal dan penguasa. Secara sistematis dan structural sistim Negara mengkoloni West Papua: betapa Penyiksaan, pengejaran, Penjarah bagi orang Papua, pembunuhan; marginalisasi, diskriminasi rasial, serta kekerasaan lainnya di Papua. Teror dan Intimidasi yang makin menyebar sampai di Pulau Jawa, diaman Mahasiswa Papua berada (kuliah).

Itulah mengapa orang Papua mengatakan kehendaknya untuk merdeka. Merdeka untuk berdiri sendiri sebagai sebuah bangsa yang berdaulat dan merdeka, mengatur hak hidupnya sendiri berdasarkan kehendak rakyat tanpa ada tekanan, penjajahan, penindasan, dan segalah bentuk penindasan manusia terhadap manusia lain.

Posisi Mahasiswa dalam Rakyat Terjajah?
Nah, posisi Mahasiswa dalam masyarakat sebagai bagian dari terjajah. Sebagai orang Papua yang sedang terjajah. Disisi lain juga Mahasiswa yang disebut sebagai kaum terpelajar. Mereka disebut intelektual karena terdidik secara pengetahuan dan praktek pada gerak perubahan. Teori dan pengetahuan yang di imput dari dunia pendidikan (kampus) tentu akan mempraktekan/meletakan ditengah masyarakat yang sedang terjajah. Agar saling berintegrasi antara teori/pengetahun dan realitas sosial masyarakat, adalah menganalisa apa kondisi objektif Keberadan sosial Papua, hari ini. Meletakan pengetahuan kaum terpelajar ditanah rakyat Papua, tak terpisahkan dengan kondisi objketif dan kehendak rakyat untuk membebaskan diri dari penindasan. Pengetahuan dan semangat juang Mahasiswa Papua merupakan pendorong/pengerak kehendak rakyat yang sedang tertindas/dilemma oleh kondisi objektif. Menjadi pengerak kehendak rakyat Papua, hari ini, merupakan tanggungjawab moral pemuda dan mahasiswa.

Moral yang berpihak pada penderitaan rakyat Papua lah Anda dan saya akan mengabdi. Bentuk pengabdian kita, mulai dari berdiskusi tentang kondisi rill yang sedang dialami oleh rakyat Papua; menulis kritis sebagai pemuda/mahasiswa yang kritis, dan melakukan perlawanan aksi massa untuk menentang sistim yang menjajah—yang terpusat di Jakarta.
____________________
[1] Catatan ini ditulis untuk kepentingan penyadaran—koran—selebaran—kepada pemuda dan mahasiswa di Jakarta.
[2] United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) atau Gerakan Persatuan Pembebasan Papua Barat, yang didirikan tahun 2014 di Port Vila, Vanuatu.

Penulis: Arnold Ev. Meaga*

KEADAAN BUMI DAN ISINYA

Dalam bumi yang di huni oleh makluk hidup, tumbuhan dan atau segala jenis makluk hidup yang ada di bumi ini apapun itu semuanya berdomisili pada tempatnya (Daerah) masing-masing. Singkatnya sang pencipta Alam Semesta (Tuhan) sudah memfasilitasi buminya makluk hidup (Manusia dan sejenisnya) secara terpisah-pisah berdasarkan ras dan etnik dari setiap makluk hidup yang ada pula di dalam perut bumi ini sendiri. Sehingga tempat-tempat yang di huni oleh makluk hidup semuanya sang pencipta alam semesta (Tuhan) sudah pulah memfasilitasi dan menyediakan sumber daya alamnya (SDA) masnig-masing. Sehingga makluk hidup tersebut dapat mempertahankan keberlangsungan hidupnya dengan cara mengelola sumber daya alam dan mengkonsumsinya secara kolektif oleh mereka kelompok makluk hidup yang berdomisili pada wilaya atau daerah tempat bermukimnya itu, dengan cara dan gaya mereka sendiri.

SERAKAHNYA MAKLUK HIDUP (MANUSIA) DI BUMI

Semua manusia mempunyai hak dalam menjalankan aktivitas dalam berpolitik, dalam membagun rana privat, mengembagkan ekonomi mandiri perindividu ataupun kolektif, mendapatkan pendidikan yang layak, bebas bekerja dalam membangun sesuatu secara kolektif, dan banyak kebebasan lainnya yang berkaitan dengan kepentingan manusia itu sendiri. Namun dalam suatu bangsa yang berdomisili pada negarannya masing-masing belum tentu keadaan dan kenyataan sosialnya berada dalam keadaan damai, makmur, dan sejahtera. Melainkan ketidak adilan, ketertindasan, represifitas, pemerkosaan, perbudakan bahkan pembunuhan pun kerap dan selalu terjadi atas bangsa itu sendiri, oleh penguasa yang berkuasa pula atau penjajah yang menjajah bangsa tersebut. Sehingga kontradiktif antara bangsa yang satu dengan bangsa yang lain dapat terjadi ketika bangsa lain mempraktikan penjajahan terhadap bangsa yang lainnya, yang menjadi objek utamanya untuk siap di jajah dari berbagai macam aspek politik, ekonomi, sosial budaya dan lain sebagainya.

Oleh sebab itu dengan kemajuannya pendidikan, teknologi, kecerdasan manusia, dan kemajuan suatu bangsa dan negara tersebut atas bangsa dan negara lainnya hanya akan membuat bangsa dan negara maju tersebutlah yang layak dan berhak dalam mengurus serta menguasai bangsa dan negara lainnya yang belum maju pula, dalam bidang ekonominya, pendidikannya, kurangnya sumber daya manusianya (SDM), atau singkatnya bangsa-bangsa yang belum maju dalam hal apapun itu. Dengan demikian bangsa tersebut akan dengan muda untuk di jajah dan di eksploitasi dumber daya alamnya oleh mereka bangsa penjajah yang pada hakikatnya sudah maju dalam hal apapun itu. Oleh sebab itu kemajuan suatu bangsa dan negara, akan semakin meningkat pula keserakahannya terhadap bangsa-bangsa yang di anggap lemah olehnya pula (Penjajah).

BUMI PAPUA DAN ISINYA

Bangsa-bangsa yang ada di bawah kolong lagit biru ini, semuanya memiliki buminya masing-masing, yang mana sudah di sediakan oleh sang Khalik atas bangsa-bangsa yang ada pula di bumi ini. Bangsa Indonesia memiliki buminya sendiri yaitu bumi jawa yang di huni oleh bangsa Indonesia ini sendiri dengan etnik yang berbeda dengan bangsa lainnya, bangsa Amerika juga memiliki buminya sendiri, begitupun bangsa Israel memiliki buminya sendiri dan bangsa-bangsa lainnya yang ada pula di bumi ini. Bumi West Papua dan seluruh isinya adalah mutlak milik bangsa West Papua. Bumi West Papua bukan milik bangsa Belanda, bumi West Papua bukan milik bangsa Amerika dan bukan pula milik bangsa Indonesia. Bumi Papua adalah milik bangsa West Papua, bangsa Papualah yang berhak atas bumi West Papua dalam mengelola sumber daya alam (SDM) yang terkandung dalam bumi West Papua itu sendiri. Bangsa lain tidak punya hak sama sekali untuk mengeksploitasi dan merampas bumi West Papua dari bangsa West Papua, sebab semua bangsa-bangsa sudah memiliki buminya masing-masing oleh sang Khalik.

HANCURNYA BUMI PAPUA

Status bumi West Papua saat ini berada pada situasi, kondisi dan keadaan terjajah oleh bangsa yang merasa diri sudah hebat dan sudah pula maju dalam bidang apapun itu, mau teknologi, pendidikan, SDM, ekonomi, sosial budaya dan sebagainya, ialah  mereka bangsa Indonesia yang pada hakikatnya baru bebas (Merdeka) dari cengkraman kolonialisme Hindia Belanda setelah dijajah dalam kurun waktu 300 tahun lamanya. Sehingga bangsa Indonesia berasumsi bahwa bangsa West Papua harus di kuasai oleh kita karena bangsa West Papua masi hidup di jaman batu alias belum maju dalam hal apapun. Oleh sebab itu bangsa West Papua diintegrasikan masuk ke dalam bingkai negara kestuan repulik Indonesia pada 1 Mei 1963, secara paksa dan di bawah intimidasi bangsa Indonesia melalui angkatan bersenjata. Sehingga mau tak mau bangsa West Papua dapat di gabungkan dengan bangsa Indonesia (Kolonialisme) menjadi satu-kesatuan. Namun latar belakang historis pengintegrasian bangsa West Papua masuk ke dalam negara dan bangsa Indonesia adalah ilegal.

BUMI PAPUA SURGA BAGI KAPITALISME DAN BORJUASI LOCAL (PAPUA)

Yang mulia tuan pebaca, pada bagian ini hanya akan saya bahas bagaimana cara masuknya kapitalisme asing, nasional, dan lokal berkuasa di atas bumi West Papua dalam mengeksploitasi kandungan sumber daya alam (SDA) yang terkandung pula dalam bumi West Papua itu sendiri.

Tidak di ragukan lagi untuk bumi West Papua dengan sumber daya alamnya (SDA) yang berlimpa pula dalam bumi West Papua itu sendiri. Sehingga membuat para infestor asing, nasional dan lain-lain berbondang-bondang pada berdatangan ke dalam negara kesatuan repulik Indonesia ini, guna menawarkan kontrak kerja dalam rangka penanaman infestasinya di bumi West Papua. terkait ini adapun respon yang pernah di lontarkan oleh wapres Indonesia Boediono menegaskan bahwa, Papua tetap tempat yang aman bagi para investor asing. Tak hanya itu, Papua tetap memiliki potensi bisnis yang baik bagi para investor. Hal ini disampaikan Boediono berkaitan dengan situasi di Bumi Cendrawasih yang sempat memanas. "Papua tetap menarik. Semua kembali kepada investor. Tetap ada high return. Saya tak khawatir karena investor selalu berpikir rasional," kata Boediono di hadapan forum Jakarta Foreign Correspondents Club, Jakarta, Rabu (7/12/2011).

Sebelum Papua menjadi wilaya/daerah yang berotonom, semua kebijakan di kontrol dan di kendalikan oleh negara sentral (Jakarta) apapun itu, mau ekonomi, politik, sosial budaya, sumber daya alam (SDA), pendidikan, dan berbagai macam aturan yang tidak masuk akal pun kerap di terapkan di Papua. Namun pada 2001 Papua di berikan otonomi khusus dan Papua sebagai daerah/wilayah yang berotonom. Lalu sebelum Papua tersebut mendapatkan status sebagai daerah otonom semua kendali atas ijin penanaman investasi dan lain-lain semuanya di atur oleh pemerintah sentral (Jakarta) melalui kementrian/institusi yang berkaitan, sehingga bangsa West Papua tidak ada hak-hak asasinya sama sekali di atas tanah dan negrinya sendiri (West Papua). tetapi setelah Papua menjadi wilayah/daerah otonom pada 2001 sampai dengan saat ini, pemerintah Papua dapat membatasi segala macam aturan yang di keluarkan oleh pemerintah sentral atas Papua. Dan pemerintah Papua dapat pula membuat aturan perda sendiri terkait hal-hal yang dapat membawa jaminan hidup yang baik bagi rakyat bangsa West Papua itu sendiri dan lain-lain. Dalam kontrak penanaman investasi asing untuk wilayah/daerah Papua pun tidak dapat di putuskan oleh negara sentral (Jakarta) karena Papua adalah daerah otonom, sehingga keputusan-keputusan atas perjanjian kontrak investasi haruslah di libatkan pemerintah Papua. Negara sentral tak punya hak dalam mengambil keputusan bahkan tindakan secara sepihak terkait Papua itu sendiri.

Tetapi walaupun daerah/wilayah Papua adalah daerah yang berotonom namun dalam hal apapun masi dan tetap di atur dan di kontrol penuh oleh negara sentral dari berbagai macam aspek ekonomi, sosial budaya, politik, pendidikan bahkan sampai dengan peraturan-peraturan daerah pun (Perda) masi saja terus di intervensi oleh negara sentral. Tetapi untuk saat ini infestor asing, nasional bahkan local dapat mengeksploitasi sumber daya alam di Papua sesuka-sukanya, dan daerah atau wilayah untuk dapat di eksploitasi olehnya pun dapat di petak-petakkan sesukanya. Kenapa demikian, karena para investor ilegal maupun legal hanya dapat membangun relasi mereka dengan orang-orang yang berpengaru di Papua seperti Bupati, Kepala Suku, Tokoh-toko adat, Ondoafi dan sejenisnya terkait ijin usaha investasi yang akan beroperasi di bumi West Papua tersebut. sehingga samapai dengan saat ini, pertumbuhan infestasi asing, nasional dan local pun tumbuh dengan subur di bumi West Papua, mau ilegal sampai dengan legal.

Oleh sebab itu Negara Indonesia sendiri tak mampu dalam menyelesaikan problem yang satu ini pada daerah-daerah yang ada di dalam negri ini sendiri. Pemerintah Papua dan Papua Barat pun tidak optimis dalam mengambil keputusan terkait hal ini, sehingga pemerinta Papua dan Papua Barat juga tak mampu pula dalam mengkonservasikan problem serupa, sebab dengan adanya berbagai macan investor tersebut hanya akan menghancurkan ruang hidup bagi mereka orang-orang Papua.

Sumber Referensi:
http://ekonomi.kompas.com/read/2011/12/07/17020171/wapres.papua.aman.untuk.investasi.asing
-------------


Penulis adalah anggota Aliansi Mahasiswa Papua, Kuliah di kota Bandung



Photo oleh Revolusi Mental Papua
massa aksi saat di Titik kumpul Renon Timur
 menuju titik aksi Konsulat Amerika serikat
Denpasar Bali. 
Denpasar Bali, Pada hari Selasa 19 Desember 2017 Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Bali. mengadakan aksi demo damai (aksi Demontrasi),  titik kumpul parkiran Timur Renon mengarah ke titik aksi Konsulat Amerika, jalan Hayam Wuruk. dengan masa aksi sebanyak 31 orang. mulai aksi dari pukul 10:00-15:33 WITA, secara resmi menyampaian sikap politik dengan Thema umum AMP: " Melawan Lupa 56 Tahun Tragedi Trikora Pemaksaan Bangsa Papua Barat Masuk Indonesia " yang tepat hari ini 56 Tahun bangsa West Papua masih di jajah dan masih dibungkam sejarah fakta bangsa West Papua oleh Indonesia.

Kita akan tetap menperjuangkan hak kebebasaan Bangsa Papua barat, dan mengembalikan kemerdekaan bangsa Papua Barat yang telah merdeka secara de Fakto dan De jure sejak 1 desember 1961 yang kini telah 56 Tahun sebagai suatu bangsa yang merdeka sama seperti bangsa yang lain. dan  maka aksi pada 19 Desember 2017 ini, merupakan melihat kembali TRIKORA (Tri Komdo Rakyat) sebagai awal pemusnahan rakyat bangsa Papua Barat oleh negara Indonesia melalui Daerah Operasi militer yang kejam di seluruh Tanah Papua Barat dan secara Aneksasi yang kejam serta manipulasi sejarah bangsa Papua Barat.

Adapun Kronologi aksi sebagai ungkapan kebenaran meminta hak bangsa Papua barat di kembalikan.

Kronologi Aksi:

Massa aksi melakukan long mart dari Parkiran Timur Renon hingga ke Tempat titik aksi Konsulat Amerika Serikat , selama perjalanan massa Aksi menyayikan yel-yel di antaranya "Papua Bukan Merah Putih" dan orasi tentang awal mula bangsa Papua Barat di Aneksasi melalui TRIKORA (Tri Komando Rakyat) oleh Indonesia.

Selama menuju ke tempat titik aksi di depan kantor Konsulat Amerika Serikat di kawali penuh oleh pihak  kepolisian, dan kemudian, massa aksi sebelum mendekati  kantor Konsulat Amerika Serikat jaraknya 1 Kilo Meter.  di mana,  pihak Kepolisian telah memarkir kendaraan roda dua dan roda empat sepanjang kantor Konsulat AS,  mulai dari Pintu Keluar kantor Konsulat Amerika Serikat  hingga Bundaran Hayam Wuruk sebanyak tiga lapisan kendaraan yang menyusun. sehingga Massa aksi menyampaikan hak aspirasi di bundaran Hayam Wuruk.

saat itu, Negosiator AMP KK Bali, telah negosiasi kepada pihak kepolisian untuk meminta berikan akses jalan menuju titik  tempat dan meminta untuk menyampaikan aspirasi di depan Kantor Konsulat AS sesuai surat pemberitahuan yang di masukan di Kepolisian", tetapi pihak kepolisian dengan tindakan keras tidak memberikan tempat untuk demo aksi damai di depan Kantor Konsulat AS, di karenakan menurut pihak kepolisian  Gatra (polisi) "Tempat Konsulat adalah tempat Alat Vital Negara yang tidak boleh ganggugugat oleh siapa pun". Dengan demikian, Negosiator AMP KK Bali di sela-sela itu juga tegaskan kepada pihak kepolisian bahwa " jangan membungkam suara mahasiswa atau hak kebebasan mengemukakan pendapat di muka umum dari mahasiswa Papua, biarkan kami sampaikan hak kami di depan Kantor Konsulat AS dan jika tidak kami akan tetap berorasi sampai malam hari" sambil negosiasi selama hampir 1 Jam.

Negosiator AMP KK Bali saat aksi 19 Desember di bundaran Hayam Wuruk
bersama pihak kepolisian.


Dengan terpaksa, Massa aksi melakukan demo damai di depan bundaran Hayam Wuruk. selama berorasi, beberapa massa aksi pun ikut terlibat dalam menyampaikan aspirasi. ada pun beberapa massa aksi sempat menyamaikan aspirasi Mia bahwa "Kita datang kesini bukan kita minta apa-apa tetapi kita minta kembalikan hak kemerdekaan bangsa Papua Barat yang telah merdeka 1 Desember 1961 dan pada 19 Desember 1961 sampai hari ini 19 Desember 2017 sudah 56 Tahun adalah awal indonesia menjajah dan aneksasi bangsa Papua Barat yang kini masih menjajah Tanah bangsa Papua Barat" ungkapnya. dan serta juga oleh Bertho, menyampaikan bahwa "Melalui TRIKORA inilah Awal pemusnahan bangsa Barat dan dampak dari itu kami masih meraskan hingga kini". ungkapnya.  kemudian di lanjutkan oleh Zayur Bingga bahwa "Negara Indonesia adalah penjaga tamu untuk Kapitalis Amerika Serikat demi mengamankan ekonomi poltik,  di mana pada saat  TRIKORA 19 Desember 1961  merupakan awal pemusnahan rakyat Bangsa papua Barat dan awal kejahatan negara Indonesia di West Papua dengan agresi militer" Ungkapnya.  dan ada bebarapa massa aksi yang menyampaikan aspirasi.
salah satu Massa Aksi saat Berorasi di bundaran Hayam Wuruk
Denpasar Bali.

Setelah beberapa orasi yang di sampaikan oleh massa aksi, Adapun saling dorong mendorong bersama pihak kepolisihan. Tepat pada saat saling dorong mendorong sama pihak kepolisihan terjadi hujan deras, dalam hujan deras itulah massa aksi saling dorong mendorong dan saat dorong mendorong Kordonator Lapangan (KORLAP)  AMP KK Bali Jeeno, menyampaikan kepada pihak kepolisihan bahwa "Apa bila pihak kepolisian tidak memberikan ruang orasi di depan kantor Konsulat AS..Kawan-kawan, maka kita akan tetap ada di sini hingga pada malam hari sampai hak kami di dengar " melalui Megaphone yang di bawanya.
Massa aksi saat dorong mendorong bersama pihak kepolisian
di depan jalan putaran Hayam Wuruk

Dengan kata itu, Pihak Kepolisiahan merasa takut sehingga menghubunggi  Kapolda Bali Irjen Petrus Golose  Untuk mengamankan aksi damai AMP KK Bali.  Kemudian Kapolda Bali tiba di tempat saat hujan berhenti.

Kemudian, Negosiator AMP KK Bali, menegosiasi lagi kepada Kapolda Bali Irjen Petrus Golose  bahwa "Pak Kenapa bapak tidak memberikan ruang demonya kami di depan Kantor Konsulat Amerika Serikat sesuai surat pemberitahuan yang kami masukan pada lima hari yang lalu, dan kenapa bapak menghalanggi jalan kami menuju konsulat  AS yang penuh dengan kendaraan kepolisihan sehingga kami dapat demo di depan bundaran jalan Hayam Wuruk, berikan kami ruang bebas untuk menyampaikan hak kami di depan kantor Konsulat AS". setelah itu, Ungkap Kapolda Bali Irjen Petrus Golose bahwa" Sekarang sudah Pukul 15:25 WITA dan sudah cukup waktu yang telah di orasikan di tempat ini, apa lagi Tim saya telah basa keyuluran  karena hujan, maka lebih baiknya sekarang waktunya pulang". ungkapnya. kemudian perdebatan yang sangat panjang sehingga kapolda tidak sanggup untuk membalas apa yang negosiator AMP pertanyaakan dengan beberapa pertanyaan.
Negosiator AMP sama Kapolda Bali Irjen Petrus Golose
di Bundaran Jalan Hayam Wuruk Denpasar Bali

Karena Kapolda Bali Irjen Petrus Golose  tidak mampu dalam menjawab hal itu, sehingga di suruh anggotanya untuk memaksa pulang atau membubarkan secara paksa massa aksi demo damai sesuai kemauan pihak kepolisihan. Maka massa aksi yang ada saat itu, di paksa untuk pulang dan memaksa untuk membacakan pernyataan sikap di depan bundaran Hayam Wuruk.

Massa aksi di dorong secara paksa oleh pihak kepolisihan dengan mengunakan peralatan lengkap, sejauh jarak 7 meter dari titik aksi, untuk mengarahkan pulang secara paksa. Dengan demikian, salah salah satu Kordinator Lapangan (KORLAP) Jeeno, mengambil posisi untuk mengamankan massa aksi dan sempat menyampaikan " kawan-kawan kita dapat di paksa untuk pulang dan meminta untuk membacakan pernyataan sikap AMP, maka dengan itu di tempat ini kita akan bacakan pernyataan Sikap meskipun kantor ASnya jaraknya tidak tempu" ungkapnya.

Setelah membacakan pernyataan sikap, massa aksi persiapkan diri kembali ke titik kumpul sambil menyayikan" Papua Bukan Merah Putih", "Tanah Papua Tanah yang kaya" dan yel-yel Papua Merdeka. hingga tiba di Parkiran Timur Renon.

Salam Papua Merdeka
Salam Revolusi 

Penulis Adalah Agitasi danPropaganda Aliansi Mahasiswa Papua Komite kota Bali


Photo saat massa aksi saling dorong mendorong di bundaran jalan ahayam wuruk
Denpasar Bali



Photo Revolusi Mental
saat Ibadah HUT bangsa Papua Barat yang ke 56 Tahun

"1 Desember 2017: Hari HUT West Papua di Bali"
DENPASSAR - Perjuangan terus berjalan di tengah kota-kota, yang di organisir oleh Aliansi Mahasiswa Papua menjadikan pondasi dalam perjuangan sejati. Di berbagai kota yang ada di seluruh Indonesia juga memperingati hari lahirnya Kemerdekaan bangsa Papua Barat dalam merebut kembali kedaulatan pada kemerdekaan.

Pada Tahun ini, keterlibatan dukungan atas perjuangan bangsa Papua Barat mulai dari kanca Internasional, Nasional hingga pada tahap Lokal Daerah West Papua. yang mana, di selenggarakan secara serentak oleh para pendukung ( solidaritas-solidaritas),  Aliansi Mahasiswa Papua (AMP), Komite Nasional Papua Barat (KNPB), Front Rakyat Indonesia For West Papua (FRI-West Papua), United Liberation Movement For West Papua (ULMWP), Free West Papua Campaign (FWPC) around the world, Tentara Pembebsan Nasional Papua Barat (TPN-PB) dan serta seluruh masyarakat Papua Barat dari setiap lingkungan masing-masing dengan berkategori Ruang Diskusi, Pengibaran Bintang Fajar, Ibadah Syukuran Hari HUT, Demontrasi dan lainya.  Maupun terlihat jelas pada setiap individu di media seosial (Facebook, Line, What's Up (WA), Instagram, ect) menganimasikan berbagai bintang fajar sebagai telah lahirnya embrio kebangsaan Papua Barat untuk memperjuangkan terus dalam mengembalikan "Hak Penentuan Nasib Sendiri" dan Nasib Rakyat Bangsa Papua barat.

Dengan peringati hari besar Bangsa Papua Barat, yang telah merdeka sejak 1 Desember 1961 hingga kini masih memperingati 1 Desember 2017 telah 56 Tahun perjuangan tetap pada posisi. Kemerdekaan bangsa Papua Barat sejak 1 Desember 1961 telah merdeka secara keutuhan wilayah Papua Barat Sorang sampai Samarai secara de facto dan de jure. Namun, Bangsa Papua Barat yang baru lahir memiliki waktu 19 Hari, yang mana Indonesia, Belanda, Amerika dan PBB saling merebut kekuasaan wilayah Papua Barat dalam targetan untuk tempat Eksploitasi Sumber Daya Alam Papua Barat. Yang kini pun, masih dalam perebutan kekuasaan bangsa Papua Barat.

Terpampang sejarah bangsa Papua Barat, evolusi dan revolusi semakin Nyata mewujudkan garis perjuangan yang kian perlawanan merebut hak dasar dari bangsa Papua Barat sesuai Ideologi dan sejarah bangsa Papua Barat yang selalu hidup dalam perjuangan rakyat bangsa Papua Barat. Pada 1 Desember 2017,  Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Bali dan  IMMAPA BALI telah merayakan ibadah Syukur hari kebangsaan Papua Barat yang ke-56 Tahun dalam garis perjuangan yang nyata.


Beberapa waktu yang lalu, AMP dan IMMAPA di BALI merayakan ibadah Syukuran di  Asrama Mimika, Ibadah dimulai dari pukul 10:00 WITA, dengan  massa mahasiswa dan masyarakat sekitar 60-an orang.  Dalam tata cara perayaan Ibadah, untuk lagu pembukaan dimulai dengan  Lagu Kebangsaan Bangsa Papua barat "Hai TanahKu Papua". Setelah Lagu Kebangsaan, di mulai dengan SabdaTuhan yang dibawakan oleh Bapak Rumpaidus. Menyampaikan bawah "dengan memperingati HUT Papua yang ke 56th ini Papua  bisa terlepas dari segala belenggu penidasan dan pengisapan dari kolonial Indonesai dan kaptalis global. dan kami juga meminta pertologan Tuhan Dalam perjugan Papua". Ungkapnya.

Adapula yang minggisi  dengan puisi Perlawan yang di bawakan oleh Monda Judul "Angin Pembebasan" Karya Alex Giayai, dan focal grup atau nyayian dari asrama putri dalam membawa suasana ibadah.  serta ada pun juga materi singkat kemerdekaan Papua Barat yang di bawakan oleh Saudari Mia, dalam penyampaian materi mengenai awal kemerdekaan Papua dari 1 Desember 1961 sampai 2000an yang dimana "pejuang Papua yang bergerak untuk mengembalikan kemerdekaan Papua 1 Desember 1961, untuk mengembalikan Papua Barat tidak selalu mulus ada korban dan intimikasi yang dilakukan oleh aparatur NKRI di papua, indonesia bahkan dunia internasional terhadap para pejuang. Tetapi ideologi, sejarah itu menjadi suatu pelajaran yang sangat berharga, kemarin, hari ini dan besok akan  menuntut  kemerdekaan yang di manipulasi oleh NKRI.dengan cara kami orang Papua yang di lakukan oleh toko-toko papua di internasional yang bakan didalam negeri". ungkapnya.

Dan juga di tambahkan "melalui HUT Kemerdekaan Papua Ke 56th ini seluruh masyarakat Papua dari Sorong sampai Samarai menjadi satu untuk merebut kembali kemerdekaan Papua yang sudah perna di manipulasi oleh NKRI dan Belanda, Amerika dan PBB. Tegasnya.

Dan akhir dari ibadah bersama AMP Dan IMMAPA pemotogan kue HUT kemerdekaan Papua yang ke 56th  yang di wakili oleh AMP,IMMAPA, MASYARAKAT PAPUA yang berada  di Bali. Dan foto bersama seluru Mahasiswa dan Masyarakat yang hadir dalam ibada bersama

Ada pun beberapa Tuntutan :

1. Tutup PT Freeport 
2. Tarik militer organik dan non organi yang ada diseluruh tanah papua
3. Berikan Hak Penentuan Nasip Sendiri sololusi Demokatis Bagi rakyat  Papua Barat

Penulis adalah Agitasi dan Propaganda Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Bali

Gambar Ilustrasi AMP
"Seruan aksi  :AMP dan FRI-WP Siap Memperinggati Hut
Papua Barat Yang ke 56"
Deklarasi Kemerdekaan Negara Papua Barat sejak 1 Desember 1961, nyatanya tidak akui oleh klonialisme  Indonesia dan setan imperialisme  Amerika dan antek-antennya dengan beberapa  tupi daya dan alasan klaim yang tidak  logis . Wujud dari tindakan Indonesia yang tidak mengakui pembentukan Negara Papua. Papua dilakukan dengan invasi militer yang dilakukan sejak dikeluarkannya TRIKORA (Tiga Komando Rakyat ), 19 Desember 1961 di Alum-Alum Utara Yogyajarta. Mobilisasi kekuatan militer dilakukan untuk menggagalkan Negara, yang baru berumur 18 hari tersebut. Berbagai opersi militer dilancarkan untuk menganeksasi Papua Barat  secara brutal kedalam pengakuan Indonesia.

Dalam waktu persamaan pula klonialisme indonesia dan bajingan imperilaisme amerika dan antek anteknya. Terus bermain berbagai retorika politik secara sepihak dalam drama politik terus terjadi di papua barat dekade1960an -1970 dan mengsampingkan hak hak dasar rakyat papua dalam pristiwa-pristiwa politik seperti, 15 Agustus 1962 sebagai hati  persetujuan New York yang mengatur tentang pemerintahan sementara di Papua dan mempersiapkan pelaksanaan hak menentukan nasib bagi Rakyat Papua. Kemudian dari bulan Juli-Agustus 1969 dilahirkan tindakan pilih bebas bagi Rakyat Papua, yang oleh di Indonesia dinamakan Penentuan Pendapat Rakyat ( PEPERA). Pelakasanaan PEPERA dilakukan dibawah tekanan, terror dan intimidasi aparat keparat Indonesia.

Berdasarkan sejara . Indonesia berhasil menggagalkan berdirinya Negara Papua dan memakasakan Rakyat Papua untuk bergabung dengan Pemerintah klonialsme indonesia, perjuangan untuk mewujudkan terbebentuknya sebuah Negara Papua tidak akan pernah surut. Berbagai pergangtian rezim penguasa  di Indonesia, mulai dari rezim militeristik Soeharto hingga rezim saat ini JOKOWI-JK  tidak mampu meredam semangat  perlawanan . Berbagai kebijakan kebijakan  seperti Otonomi Khusus, Pemekaran, OTSUS Plus , UP4B tidak mampu meggalaukan keinginan Rakyat Papua untuk mendirikan Sebuah Negara.

Dengan demikian penyakit  di hadapi  oleh rakyat papua Barat  dan terus menjadi  darah dagin di tanah   west papua  saat ini, bukan persoalan kesejahteraan dan kesenjangan sosial atau persoalan ketidaksetaran ekonomi, tapi rentetan status  politik Papua barat yang benar-benar direbut oleh rakyat papua terutama400an kaum inteltual papua barat yang mencoretkan sejara persitiawa politik nation Papua.

Maka, kami Alansi Mahasiswa papua (AMP) dan Front Rakyat indoensia- west Papua (FRI_WP) mengajak Kawan-Kawan Mahasiswa/I Papua (Rakyat Papua) dan seluruh elemen prodemokrasi indonesia (Rakyat Indonesia) mengundang untuk terlibat dalam Aksi Massa yang akan di lakukan dalam rangka peringatan 56  Tahun Deklarasi Kemerdekaan Bangsa Papua 1 Desember 2017.

Hari/Tangal   : Jumat 01, Desember 2017
Waktu : 10.00 wib - selesai
Titik Aksi : Kantor   Freeport,Plaza 89 Kuningan Jakarta
Thema          : TUTUP FREPORT, Hak menetutakan nasib sendiri solusi demokratis Bagi rakyat Papua Barat

Demikian seruan aksi ini kami buat, atas partisipasi dan kehadiran kawan-kawan mahsiswa/I Papua (rakyat Papua) dan elemen elemen prodemokrasi indonesia (rakyat indonesia) dalam aksi damai mmperingati Hut-papua Barat yang ke- 56`kami ucapkan banyak terimakasi.

Salam....!

                                                                                                        Jakarta 30, November 2017

     Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) Dan Front Rakyat Indonesia - Free West Papua (FRI-WP)

Photo Revolusi Mental Papua
"Kedatangan Tamu Negara Tetangga Intelkam Polda Bali
Di Asrama Papua Bali"
Denpasar Bali - Anggota Kepolisian Intelkam daerah Bali mendatanggi Asrama Papua Bali pada tanggal 16 November 2017 yang lalu, dengan agenda khusus dari perintah atasan KAPOLDA BALI, mengecek Mengenai situasi di Tembagapura Timika Papua, terutama bagimana respon dari Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Bali terkait kasus di Tembagapura, dan tindakan rakyat Papua yang berdomisili di Bali mengenai situasi Tembagapura  serta pergerakan Aliansi Mahasiswa Papua di Jakarta (Tentang Temu Pers).

Kedatangan para militer di kediamaan asrama Papua sangat jelas bahwa hanya ingin menutup ruang demokrasi pada 1 Desember 2017, yang merupakan hari kemerdekaan bagi bangsa Papua Barat serta pergerakan yang sangat bergejolak secara konprensip di tingkat Nasional maupun Nasional. sehingga, Taktik atau cara dari militer telah melebar luas untuk memantau berbagai aktivitas yang di lakukan di setiap kota Study maupun di tingakat tanah air Papua Barat, seperti yang terjadi di Kota Study Semarang, Malang, Dan Kota Studi lainnya serta di tanah air Papua Barat. di mana militer melakukan aksi diskriminasi, intimidasi dan melakukan tindakan-tindakan yang mencurigakan bagi mahasiswa Papua dan rakyat Papua yang berdiami dan berdomisili di lingkungan setempat.

Kronologi selengkapnya Mengenai Kedatangan Intelkan kepolisian di Asrama Papua:

Pada 15 November 2017 sekitar pukul 16:30 WITA, dari salah satu kepolisian menghubungi aktivis Aliansi Mahasiswa Papua  melalui WhatsApp (WA)Nya dan serta melalui Handphone Seluler di telepon,untuk bertemu bersama pada hari besoknya. Tepat  pada tanggal 16 November 2017 pukul 13:00 WITA di tempat Asrama Papua Bali. 

Dengan adanya laporan demikian dari Intelkam kepolisian KAPOLDA BALI. Maka, saat itu membuat kesepakatan  secara Internal antara Mahasiswa Papua untuk bertemu dalam menanggapai apa yang akan Intelkam kepolisian mengungkapkan dan sampaikan dengan agenda yang di infromasikan langsung dari POLDA BALI.

Kemudian Pada tanggal 16 November 2017, datangnya  dua orang anggota Intelkam kepolisian Polda Bali di  Asrama Papua tepat pada pukul 13:58 WITA sesuai perjanjian waktu dan ketentuan tempatnya (Tetapi kedua Intel tersebut telah datang terlebih dahulu sebelum waktu yang di tentukan). kedua polisi (Intel) sudah berada di area parkir Grasi motor dan memasuki ruang tamu asrama Papua salah satu darinya. Sedangkan yang satunya masih tinggal di luar untuk memantau situasi dari luar ruangan asrama Papua (Mengambil photo asrama dan sebagainya). Pada saat itu, Mahasiswa penghuni Asrama Papua dalam keadaan di luar asrama (masih dalam aktivitas Kampus) tetapi yang menerima tamu adalah salah satu  Mahasiswa (Aktivisit) yang tinggal di  Asrama Papua  menerima kedua polisi tersebut, sambil berbincang-bincang dan tanda cawa bersama kedua polisi itu, hingga beberapa mahasiswa Papua terkumpul bersama.

Setelah, beberapa menit kemudian pada pukul 14:07 beberapa Mahasiswa Papua terkumpul di Asrama Papua dan membuka diskusi terbuka tentang apa yang akan di sampaikan oleh kepolisian yang datang. Kemudian dalam waktu yang terbuka, dari salah satu aktivis Aliansi Mahasiswa Papua mempertanyakan apa tujuan bapak datang ke Asrama Papua? dan mengapa Bapak datang dalam jumlah sebanyak dua orang? dan siapa yang mengutus bapak datang ke sini? serta apakah bapak membawa surat izin dari kepolisian? secara umum bahwa kedatangan mereka untuk mempertanyakan persoalan yang di sampaikan di atas itu.

Anggota Intelkam Kepolisian yang bernama Mastra asal dari Bali dan salah satunya asal dari Jawa, pertanyaan di jawab oleh Mastra "Kami datang kemari atas dasar utusan dari atasan KAPAOLDA BALI untuk menanyakan dan meminta tanggapan tentang situasi Tembagapura Timika Papua dan Pergerakan Aliansi mahasiswa Papua di Jakarta kemarin (Temu Perss) serta apakah pergerakan Aliansi Mahasiwa Papua di Bali sama dengan pergerakan yang di Timika." itu tujuan kedatanagan kami untuk menjawab kasus di Tembagapura Timika Papua, Ugkapnya.

Setelah tanggapan demikian, tanggapan Balik dari aktivist Aliansi Mahasiswa Papua bahwa "kami Aliansi Mahasiswa Papua Bali yang mengorganisir seluruh Mahasiswa Papua di Bali menyikapi apa yang terjadi di Tembagapura Timika Papua dan Aliansi Mahasiswa Papua di jakarta (Temu perss) merupakan presepsi arah  perjuangan yang berbeda, namun tujuannya sama yaitu Penentuan Nasib sendiri bagi bangsa Papua Barat dan serta kami turut tetap menjaga keamanan di Bali, karena organisasi Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Bali ini dapat terorganisir dan terstruktur dari pusat. maka kami tetap menunggu jawaban dari pusat tentang keputusan apa pun juga. Dan Untuk mengenai  informasi yang sangat nyata  sudah ada di berbagai media Massa terutama pergerakan di Jakarta dan di Tembagapura Timika Papua dalam hal perjuangan pembebasan rakyat papua Barat; dengan itu kami memohon kepada bapak dan jajarannya dapat telusuri secara rincin di media massa yang sedang beredar, serta secara umum juga, kami dari Aliansi mahasiswa Papua Komite Kota Bali mempunyai data yang telah di print out tentang situasi itu". Saat itu, dari salah satu aktivist beriakan print out itu kepada pihak kedua anggota intelkam tersebut.

Dan Kemudian tanggapan lagi dari pihak Intelkam" kami berharap bahwa apa yang terjadi di balakang ini terutama di timika Papua dan AMP di Jakarta dapat berjalan secara aman-aman sesuai kehendak yang dimintah dan terutama dari Rakyat Papua serta Aliansi Mahasiswa Papua di jakarta maupun di Bali. Lanjutnya, apa bila memang Papua mau Merdeka itu tanggung jawab negara, Ya...Pasti kalo Papua Merdeka..Merdeka  yang  terpenting adalah Mahasiswa Papua di Bali aman-aman saja dan menjaga keamanan Bali". tegas dari salah satu anggota Intelkam Polda Bali (Mastra).

Dan adapun juga tanggapan dari kedua Intelkam bahwa apakah ada masukan dan saran tentang situasi di Bali terutama terhadap mahasiswa Papua? ketika itu, ada beberapa aktivist menjawab "kami merasa ada tekanan dari polisi di Bali di mana, ketika kami mahasiswa Papua melakukan aktivitas ada pun polisi masih tekan kami, terutama tentang lintas perjuangan pembebasan Papua Barat (di tanya-tanya sambil paksas)  atau masih saja polisi menutup ruang aktivitas dan ruang demokrasi, serta masih sangat respresif menjaga-jaga kami dalam aktivitas apa pun dan yang sangat buruknya sekarang militer sudah masuk di kampus. maka mohon perlu pertimbangan penuh sebelum terjadi pengancaman antara kedua pihak,  Pihak kepolisian perlu mengambil tindakan yang tegas dalam menyikapi kode etik kemanusiaan  dan perlu catatan ini di muat di berbagai media, agar tidak ada ancaman apapun di Bali".

Kedatangan mereka sangat mencurigakan, karena kedua pihak memilik krakter yang sangat berbeda untuk dinilai secara terbuka. Apa lagi Intel yang Asal dari luar Bali sangat mencurigakan pada saat dalam proses disksusi bebas, sebab tidak memasuki ruangan tetapi berada di luar ruangan diskusi sambil mengambil gambar atau photo terhadap mahasiswa Papua. Tetapi pada saat akhir diskusi, kami mengambil gambar secara bersama-sama untuk sebagai pembuktian bahwa adanya utusan POLDA BALI melalui kedua Anggota Intelkam. dan saat itu, keduanya membawa suarat izin dari POLDA BALI.

Dengan rapat yang terbuka serta berjalan dengan lancar dan tidak ada simpatisan antara pihak kepolisian.  Namun, pembacaan situasi yang kami mendapatkan tentang kedatangan kedua pihak, belum tentu baik. karena sikap di lapangan dari Pihak kepolisian bisanya sangat berbeda.
ada pun kami memberikan  data tentang kejadian di Tembagapura Timika Papua (8 pernyataan TPN-PB) dan pernyataan sikap Aliansi mahasiswa Papua yang di jakarta (Jumpa Pers bersama FRI-West Papua) serta saran dan masukan yang saling sama mengkritik.

Saran Untuk rakyat Papua dan Mahasiswa Papua bahwa kewaspadaan selalu di utamakan dalam hal jaga diri baik, kenali tempat baik, hentikan kerja tambahan yang membuat diri mengancam, selalu membaca situasi dengan baik di mana kamu berada. Sebab musuh rakyat Papua adalah musuh dunia secara lokal, nasional maupun Internasional terutama para militer Indonesia.

Salam Revolusi.

Penulis adalah Agitasi dan Propaganda Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Bali.
Diberdayakan oleh Blogger.